Tabir misteri di balik insiden kecelakaan militer yang melibatkan dua jet tempur canggih milik Angkatan Udara Korea Selatan (ROKAF) pada tahun 2021 akhirnya terkuak. Bukan karena kegagalan sistem atau faktor cuaca, tabrakan di udara tersebut rupanya dipicu oleh aksi tidak disiplin sang pilot yang nekat melakukan swafoto (selfie) dan merekam video saat penerbangan berlangsung.
Menyusul temuan memalukan ini, Angkatan Udara Korsel langsung menyampaikan permohonan maaf resmi kepada masyarakat. “Kami dengan tulus meminta maaf kepada publik atas kekhawatiran yang disebabkan oleh kecelakaan yang terjadi pada tahun 2021,” ujar juru bicara angkatan udara dalam konferensi pers, seperti dilansir The Guardian, Minggu (5/7/2026).
Kronologi Petaka: Manuver Ilegal Demi Sudut Kamera Terbaik
Berdasarkan laporan investigasi terbaru dari Dewan Audit dan Inspeksi Korea Selatan, insiden ini melibatkan dua jet tempur F-15K yang sedang melakukan latihan formasi di dekat pangkalan udara Daegu pada Desember 2021.
Saat terbang pilot jet pendamping melakukan manuver tajam memiringkan pesawat tanpa izin demi video perpisahan. Saat alarm bahaya berbunyi karena jarak yang terlalu dekat, kedua pilot sempat mencoba melakukan manuver darurat untuk menghindar.
Sayangnya, benturan tidak terelakkan. Bagian ekor pesawat pendamping menghantam keras sayap jet utama, menyebabkan kerusakan struktural yang sangat signifikan pada kedua burung besi tersebut.
Kerugian Rp10 Miliar Lebih dan Sanksi Berat Menanti
Meskipun beruntung tidak ada korban jiwa atau luka-luka dalam insiden menegangkan ini, kecerobohan sang pilot harus dibayar sangat mahal. Kerusakan akibat tabrakan ini ditaksir mencapai US$600.000 (sekitar Rp10,78 miliar).
Dewan audit menetapkan pilot pendamping sebagai tersangka utama yang paling bertanggung jawab. Ia langsung dijatuhi sanksi berat berupa skorsing permanen dari tugas penerbangan (pensiun dini dari kokpit) dan diwajibkan mengganti 10% dari total biaya kerusakan menggunakan kantong pribadinya.
Selain menghukum oknum pilot yang bersangkutan, Dewan Audit Korsel juga memberikan teguran keras kepada otoritas Angkatan Udara. Pimpinan militer dinilai sangat lemah dalam mengawasi dan menertibkan aktivitas pengambilan gambar atau video ilegal di dalam kokpit selama misi penerbangan strategis berlangsung.