Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 mengalami defisit sebesar Rp695,1 triliun atau 2,92 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut melebar dibandingkan target awal yang dipatok sebesar Rp616,2 triliun.
Defisit APBN terjadi karena pendapatan negara yang masuk ke kas pemerintah sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun, sementara belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun.
“Walaupun defisit membesar menjadi Rp695,1 triliun—lebih tinggi dari target APBN sebesar Rp616,2 triliun—kami tetap menjaga agar defisit tidak menembus 3 persen. Realisasinya berada di 2,92 persen, naik dari rencana awal 2,53 persen,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN Kita di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Kamis (8/1).
Purbaya juga menyampaikan bahwa keseimbangan primer masih mencatatkan surplus sebesar Rp180,7 triliun, atau setara 63,3 persen dari target APBN 2025.
Dari sisi penerimaan, Kementerian Keuangan mencatat realisasi pendapatan negara mencapai 91,7 persen dari outlook 2025, dengan target penerimaan tahun ini sebesar Rp3.005,1 triliun.
Hingga 31 Desember 2025, pendapatan negara terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp1.917,6 triliun, penerimaan kepabeanan dan cukai senilai Rp300 triliun, serta pendapatan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp534,1 triliun.
Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari pagu APBN 2025. Belanja pemerintah pusat tercatat sebesar Rp2.602,2 triliun, setara 96,3 persen dari target anggaran. Adapun transfer ke daerah (TKD) terealisasi sebesar Rp894 triliun, atau 92,3 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN.