JAKARTA – Pemerintah Indonesia telah merealisasikan penarikan utang baru senilai Rp570,1 triliun sepanjang Januari hingga Oktober 2025 guna menutup defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Angka defisit tercatat Rp479,7 triliun atau setara 2,02% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), jauh lebih rendah dari proyeksi awal sebesar 2,78% PDB.
Realisasi utang tersebut mencapai 77,94% dari target pembiayaan utang tahun 2025 yang ditetapkan Rp731,5 triliun. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan, pengelolaan utang dilakukan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
“Pembiayaan dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, fleksibilitas, dan kedisiplinan untuk menjaga utang dalam batas aman,” ujar Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa, Kamis (20/11/2025).
Untuk mengurangi tekanan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), pemerintah juga memanfaatkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp85,6 triliun sebagai sumber pembiayaan non-utang.
Pendapatan Negara Tembus Rp2.113 Triliun, PNBP Cetak Kinerja Positif
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan, hingga 31 Oktober 2025 pendapatan negara berhasil dikumpulkan Rp2.113,3 triliun atau 73,7% dari outlook APBN 2025.
Penerimaan pajak menyumbang Rp1.459,03 triliun (70,2% target), meskipun mengalami kontraksi 3,85% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) menunjukkan kinerja gemilang dengan realisasi Rp402,4 triliun atau 84,3% dari outlook, melampaui capaian tahun 2024 pada periode yang sama.
Belanja Negara Rp2.593 Triliun, Program Prioritas Serap 65,8%
Total belanja negara hingga akhir Oktober 2025 mencapai Rp2.593 triliun atau 73,5% dari pagu APBN. Rinciannya, belanja pemerintah pusat Rp1.879,6 triliun dan transfer ke daerah Rp713,4 triliun.
Dari sisi program prioritas nasional, penyerapan anggaran telah mencapai Rp611,7 triliun atau 65,8% dari total pagu Rp929 triliun.
Program unggulan Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG), menjadi salah satu yang paling cepat terserap. Hingga 18 November 2025, program ini telah menyalurkan Rp41,3 triliun (58,2% dari alokasi Rp71 triliun) dan berhasil menjangkau 41,9 juta penerima manfaat melalui 15.369 satuan pelayanan pemenuhan gizi.
Subsidi dan kompensasi energi tercatat paling besar dengan realisasi Rp315 triliun (66,3% proyeksi). Selain itu, Program Keluarga Harapan (PKH) menyerap Rp27,5 triliun untuk 10 juta keluarga penerima manfaat, sedangkan bantuan pangan (sembako) menyalurkan Rp54,1 triliun kepada 18,3 juta penerima.
Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, defisit APBN yang hanya 2,02% PDB menunjukkan pengelolaan keuangan negara tetap sehat dan terkendali.
“Defisit 2,02 persen masih jauh di bawah batas outlook APBN sebesar 2,78 persen PDB, mencerminkan komitmen menjaga APBN yang efektif,” tandasnya.
Dengan sisa dua bulan terakhir tahun anggaran 2025, pemerintah optimistis seluruh target fiskal dapat tercapai sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global.