JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah laporan terbaru menyebut Amerika Serikat dan Israel tengah mempersiapkan kemungkinan serangan lanjutan terhadap Iran dalam waktu dekat. Situasi ini memicu kekhawatiran baru terkait potensi pecahnya konflik terbuka yang lebih luas di kawasan tersebut.
Laporan yang dimuat media Amerika, *The New York Times*, menyebut Washington dan Tel Aviv kini aktif menyusun skenario operasi militer baru terhadap Teheran. Bahkan, serangan disebut bisa dimulai secepatnya pada pekan depan apabila jalur diplomasi kembali menemui jalan buntu.
Perkembangan tersebut memperkuat prediksi sejumlah analis geopolitik yang sejak lama menilai konflik Iran dengan AS dan Israel hanya tinggal menunggu momentum eskalasi berikutnya.
Negosiasi AS-Iran Dinilai Gagal Temui Titik Tengah
Salah satu faktor utama yang mendorong meningkatnya ancaman perang adalah mandeknya negosiasi tidak langsung antara Iran dan pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Perundingan yang berlangsung pasca-gencatan senjata pada April lalu disebut belum menghasilkan kesepakatan berarti. Baik Washington maupun Teheran tetap bertahan pada posisi masing-masing dan saling menolak tuntutan lawan.
Pemerintah AS disebut menilai Iran belum menunjukkan komitmen nyata terkait pembatasan program nuklir dan aktivitas militernya di kawasan. Di sisi lain, Teheran menuding Washington terus menggunakan tekanan militer dan ekonomi sebagai alat negosiasi.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan negaranya masih membuka ruang diplomasi, namun tetap menaruh kecurigaan besar terhadap Amerika Serikat.
“Kami memiliki setiap alasan untuk tidak mempercayai Amerika,” ujar Araghchi dalam pernyataannya pada Jumat waktu setempat.
Ia juga memperingatkan bahwa jalur militer tidak akan mampu menyelesaikan konflik yang terus memburuk di kawasan Timur Tengah.
“Tidak ada solusi militer, dan AS harus memahami kenyataan ini. Mereka tidak dapat mencapai tujuan mereka melalui aksi militer, tetapi situasinya akan berbeda jika mereka mengejar diplomasi,” katanya.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas Baru
Selain kebuntuan diplomatik, ketegangan juga dipicu situasi di Selat Hormuz yang hingga kini masih berada di bawah pengaruh kuat Iran.
Jalur laut strategis tersebut terus mengalami gangguan yang berdampak langsung pada distribusi energi global. Sejumlah laporan menyebut aktivitas pelayaran internasional terganggu dan memicu lonjakan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia.
Iran sebelumnya mengumumkan mekanisme pengaturan lalu lintas maritim versi mereka di Selat Hormuz. Namun langkah tersebut ditolak Washington yang justru merespons dengan memperketat tekanan militer melalui blokade angkatan laut terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Kondisi ini memperbesar risiko bentrokan langsung antara armada militer Iran dengan pasukan AS maupun sekutunya di kawasan Teluk.
AS dan Israel Disebut Siapkan Operasi Militer Baru
Dua pejabat Timur Tengah yang identitasnya dirahasiakan mengungkapkan kepada *The New York Times* bahwa persiapan serangan baru meningkat drastis dalam beberapa hari terakhir.
Menurut sumber tersebut, opsi operasi militer yang tengah dibahas mencakup serangan udara dengan daya hancur lebih besar terhadap fasilitas strategis Iran, termasuk target militer dan infrastruktur penting negara tersebut.
Selain itu, terdapat pula skenario operasi khusus untuk merebut cadangan uranium Iran yang telah diperkaya.
Persediaan uranium tersebut diyakini tersimpan di fasilitas bawah tanah setelah sebelumnya lokasi nuklir Iran menjadi sasaran pemboman Amerika Serikat pada Juni 2025.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa isu program nuklir Iran masih menjadi fokus utama Washington dan Israel dalam setiap strategi keamanan kawasan.
Trump Kembali Keras terhadap Iran
Presiden AS, Donald Trump, dalam beberapa pekan terakhir kembali mengeluarkan pernyataan keras terhadap Iran.
Trump disebut semakin frustrasi terhadap respons Teheran atas proposal yang diajukan Washington. Ia bahkan menyebut jawaban Iran sebagai “sampah” dan menilai gencatan senjata yang berlaku saat ini berada dalam kondisi “sangat lemah”.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Gedung Putih belum menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer untuk menekan Iran.
Sementara itu, pemerintah Iran menegaskan siap merespons setiap bentuk agresi yang dilakukan AS maupun Israel.
Teheran juga menilai ancaman militer hanya akan memperburuk stabilitas kawasan dan berpotensi memicu konflik regional berskala besar yang melibatkan banyak negara.
Dunia Khawatir Konflik Timur Tengah Meluas
Meningkatnya ketegangan antara Iran, AS, dan Israel kini menjadi perhatian internasional. Banyak pihak khawatir konflik terbuka dapat memicu gejolak ekonomi global, terutama terkait harga minyak dan keamanan jalur perdagangan internasional.
Jika eskalasi benar-benar terjadi dalam waktu dekat, kawasan Timur Tengah diprediksi kembali memasuki fase paling berbahaya sejak konflik besar beberapa tahun terakhir.
Sejumlah pengamat menilai keputusan Washington dan Tel Aviv dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu apakah diplomasi masih bisa menyelamatkan situasi, atau justru perang besar baru tidak lagi terhindarkan.