JAKARTA – Dampak bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra terus menunjukkan skala kerusakan yang luas. Berdasarkan pembaruan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 24 Desember 2025, total korban meninggal dunia tercatat mencapai 1.112 jiwa, sementara 176 orang dinyatakan hilang dan sekitar 7.000 lainnya mengalami luka-luka.
BNPB melaporkan, sedikitnya 52 kabupaten dan kota di berbagai provinsi di Sumatra terdampak bencana, mulai dari banjir, tanah longsor, hingga gempa bumi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini memicu kerusakan signifikan pada permukiman warga dan infrastruktur publik.
Kerusakan paling besar tercatat pada sektor perumahan. BNPB mencatat 158.096 unit rumah mengalami kerusakan dengan tingkat ringan hingga berat, memaksa ribuan keluarga mengungsi dan membutuhkan bantuan darurat.
Selain rumah warga, fasilitas umum juga mengalami kerusakan masif. Tercatat sekitar 1.900 fasilitas umum terdampak yang meliputi berbagai sarana pelayanan publik vital. Rinciannya, 806 rumah ibadah, 200 fasilitas kesehatan, dan 291 gedung atau kantor pemerintahan mengalami kerusakan.
Sektor pendidikan turut terdampak cukup parah. BNPB mencatat 875 fasilitas pendidikan rusak, yang berpotensi mengganggu proses belajar-mengajar di sejumlah daerah. Di sisi lain, konektivitas wilayah juga terhambat akibat 734 unit jembatan yang dilaporkan rusak.
BNPB menyatakan, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah terus melakukan upaya tanggap darurat, pendataan lanjutan, serta percepatan penyaluran bantuan bagi para korban. Fokus penanganan saat ini mencakup pencarian korban hilang, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, serta pemulihan infrastruktur vital.
Masyarakat di wilayah rawan bencana diimbau tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah, mengingat potensi cuaca ekstrem dan bencana susulan masih dapat terjadi di sejumlah daerah di Sumatra.