JAKARTA – Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan wilayah Jawa Barat telah memasuki musim kemarau yang datang lebih awal dann diprediksi berlangsung lebih lama.
Prakirawan BMKG, Vivi Indhira, menjelaskan kemarau mulai terjadi sejak Maret di sejumlah daerah seperti Kota Bekasi dan Karawang bagian utara. Sementara itu, wilayah lain seperti Karawang tengah, Subang tengah, dan sebagian Indramayu baru memasuki kemarau pada April.
“Sebanyak 56 persen wilayah di Jawa Barat diprediksi akan memasuki musim kemarau pada bulan Mei,” kata Vivi dalam konferensi pers daring, Selasa (14/4/2026).
Ia menambahkan, sebagian besar Kabupaten Bogor, Sukabumi Utara, Cianjur tengah, Bandung Barat timur, Kota Bandung, Bandung barat, Garut tenggara, Tasikmalaya selatan, dan Pangandaran barat akan mulai mengalami kemarau pada Juni. Adapun dua persen wilayah, termasuk Kota Bogor dan sebagian kecil Sukabumi utara, masuk kategori zona tipe 1 musim.
Menurut Vivi, 66 persen wilayah Jawa Barat diperkirakan mengalami kemarau lebih cepat dari kondisi normal, 25 persen sesuai pola normal, dan tujuh persen lebih lambat. “Sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi akan mengalami puncak musim kemarau pada bulan Agustus, yaitu sebanyak 90 persen,” ujarnya.
BMKG mengingatkan bahwa musim kemarau tahun ini akan lebih kering, dengan 93 persen wilayah mengalami kondisi kering dan hanya tujuh persen yang normal. Durasi kemarau juga diperkirakan lebih panjang dari biasanya.
Pihaknya mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk mengoptimalkan waduk dan bendungan, mempercepat pembangunan embung, serta menghemat penggunaan air. Untuk sektor pertanian, petani diminta menyesuaikan kalender tanam, memilih varietas tahan kekeringan, dan menghindari puncak musim kemarau.
“Untuk sektor kebencanaan, dimohon kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan kejadian kebakaran hutan dan lokal,” pungkas Vivi.