JAKARTA – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Pariwisata untuk mengembangkan sektor wellness tourism dan medical tourism sebagai salah satu pilar baru pertumbuhan pariwisata nasional. Langkah tersebut mengemuka dalam audiensi antara Kepala BPOM RI Taruna Ikrar dan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Pertemuan bertajuk Sinergi Pengawasan Obat dan Makanan pada Sektor Pariwisata itu menjadi bagian dari upaya mempererat kerja sama kedua lembaga dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kesehatan, kebugaran, serta pemanfaatan produk unggulan dalam negeri.
Taruna Ikrar menilai tren pariwisata global kini bergerak ke arah yang lebih berorientasi pada kesehatan dan kualitas hidup. Wisatawan tidak lagi hanya mengejar keindahan destinasi, tetapi juga mencari pengalaman yang mendukung kebugaran fisik dan mental. Indonesia dinilai memiliki keunggulan besar untuk menangkap peluang tersebut melalui kekayaan biodiversitas, tradisi jamu, produk herbal, kosmetik berbahan alami, hingga layanan kesehatan yang terus berkembang.
Menurut Taruna, keberhasilan sektor pariwisata tidak terlepas dari jaminan keamanan dan mutu produk yang digunakan maupun dikonsumsi wisatawan. Produk pangan lokal, layanan spa, kosmetik herbal, hingga fasilitas kesehatan memerlukan pengawasan yang ketat agar mampu meningkatkan kepercayaan wisatawan domestik maupun mancanegara.
Peluang ekonomi dari sektor ini juga sangat menjanjikan. Pasar wellness tourism dunia diperkirakan bernilai lebih dari US$1 triliun pada 2026 dan diproyeksikan terus tumbuh dalam beberapa tahun mendatang. Di sisi lain, medical tourism juga mengalami perkembangan pesat seiring meningkatnya permintaan terhadap layanan kesehatan berkualitas dengan biaya yang kompetitif.
Untuk mendukung potensi tersebut, BPOM menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem wisata kesehatan nasional melalui pengawasan obat dan makanan yang efektif, percepatan layanan perizinan, pembinaan pelaku usaha, serta pendampingan UMKM agar mampu memenuhi standar keamanan dan mutu yang berlaku.
Dukungan BPOM telah diwujudkan melalui sejumlah program di berbagai daerah. Beberapa di antaranya adalah pendampingan Desa Wisata Jamu Kiringan di Bantul, Desa Wisata Wonolopo di Semarang, serta pengembangan kawasan wisata herbal di Sumba Timur yang mengintegrasikan pelestarian tanaman obat dengan aktivitas wisata berbasis masyarakat.
Selain itu, BPOM juga mengimplementasikan Program Desa Pangan Aman di sejumlah desa wisata guna memastikan produk kuliner yang disajikan kepada wisatawan memenuhi standar keamanan pangan. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan perlindungan konsumen sekaligus memperkuat daya saing destinasi wisata lokal.
Jamu, Kosmetik, dan Wisata Medis Jadi Andalan Baru
Dalam pengembangan wellness tourism, BPOM terus mendorong promosi jamu, obat bahan alam, kosmetik, serta layanan kebugaran melalui berbagai program kolaboratif. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penyelenggaraan Wellness Festival (Wellfest) yang menjadi ajang promosi sekaligus memperkuat jaringan pelaku industri wellness nasional.
Pada kesempatan tersebut, Taruna Ikrar juga mengusulkan perluasan kerja sama dengan Kementerian Pariwisata dalam pelaksanaan Wellfest 2026. Selain itu, sinergi juga diarahkan untuk memperkuat program UMKM Meet Market guna memperluas akses pasar bagi produk jamu dan kosmetik lokal, khususnya di sektor perhotelan dan restoran.
Di bidang medical tourism, BPOM turut berkontribusi melalui dukungan regulasi dan layanan perizinan. Salah satu implementasinya dilakukan melalui mekanisme Special Access Scheme (SAS) yang mendukung kebutuhan layanan kesehatan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), termasuk Bali International Hospital di KEK Sanur.
Melalui skema tersebut, akses terhadap obat-obatan tertentu dapat dilakukan secara lebih cepat dan terukur, namun tetap berada dalam pengawasan ketat guna menjamin keamanan, mutu, dan keselamatan pasien.
Taruna Ikrar menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk mewujudkan Indonesia sebagai destinasi wisata kesehatan berkelas internasional. Dengan dukungan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai pusat wellness tourism dan medical tourism di kawasan Asia.
BPOM juga terus memperluas pendampingan terhadap UMKM pangan, jamu, dan kosmetik di berbagai desa wisata. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk lokal sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat di sekitar destinasi wisata.
Melalui penguatan sinergi antara BPOM dan Kementerian Pariwisata, pemerintah berharap perlindungan masyarakat dapat semakin optimal sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tengah persaingan industri pariwisata global. Dengan kekayaan sumber daya alam, budaya, dan warisan kesehatan tradisional yang dimiliki, Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat wisata kesehatan dan kebugaran dunia pada masa mendatang.