DEPOK – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menilai penguatan peran sandiman menjadi kebutuhan penting untuk menghadapi peningkatan risiko kejahatan siber di tengah pesatnya transformasi digital.
Hal itu disampaikan Kepala BSSN Nugroho Sulistyo Budi saat membuka Workshop dan Kongres Ke-3 AFSI di Depok, Jawa Barat, Selasa (1/9/2026).
Forum tersebut mengangkat tema “Memperkuat Keamanan, Ketahanan, dan Kedaulatan Digital Nasional” dan berlangsung secara hybrid pada 1–3 September 2026.
Nugroho menekankan sandiman perlu memperkuat kemampuan teknis sekaligus membangun kolaborasi untuk menghadapi ancaman digital yang semakin kompleks.
“Sandiman harus mampu memutus rantai kejahatan siber mel alui penerapan best practice di seluruh siklus pengamanan, sekaligus mengintegrasikan keamanan siber dan persandian sebagai kebutuhan strategis dalam menjaga ruang siber yang aman dan tepercaya,” tegas Kepala BSSN.
Menurut BSSN, pengamanan ruang siber tidak cukup dilakukan secara sektoral karena pola serangan digital dapat melibatkan berbagai lembaga dan bahkan jaringan lintas negara.
Karena itu, konsolidasi fungsional sandiman diarahkan untuk memperkuat penerapan praktik terbaik dalam seluruh tahapan pengamanan informasi dan komunikasi digital.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi turut menyoroti ancaman scam yang menyasar pengguna layanan keuangan berbasis digital.
Friderica menilai perkembangan transaksi digital harus dibarengi perlindungan konsumen serta langkah penindakan yang lebih cepat terhadap jaringan penipuan.
Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui pemblokiran rekening dan nomor kontak yang digunakan pelaku serta percepatan proses pengembalian dana kepada korban.
Literasi masyarakat mengenai mekanisme pelaporan juga dinilai penting agar kasus penipuan digital dapat segera ditangani dan tidak meluas.
Hari pertama kongres diisi pembahasan kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat mitigasi kejahatan digital serta workshop dengan materi teknis.
Memasuki hari kedua, agenda diarahkan pada pembahasan kebijakan persandian dan penguatan kriptografi nasional yang dilanjutkan dengan CryptographyFest 2.0.
Sementara itu, Kongres AFSI pada hari ketiga menjadi agenda utama untuk mengevaluasi kepengurusan sekaligus menentukan Dewan Pengurus Nasional AFSI periode berikutnya.
Kegiatan tersebut diikuti jajaran pimpinan BSSN, perwakilan OJK, pengurus dan anggota AFSI, mitra industri, serta sandiman dari kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.
BSSN berharap forum tersebut menghasilkan penguatan kompetensi dan profesionalisme sandiman dalam menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.
Konsolidasi itu juga diharapkan memperkuat soliditas profesi sandiman dalam mendukung keamanan, ketahanan, dan kedaulatan ruang digital Indonesia.***