Amerika Serikat jarang sekali secara langsung menangkap pemimpin negara asing yang masih menjabat, karena hal itu melanggar prinsip kekebalan diplomatik (head of state immunity) dalam hukum internasional.
Namun, dalam sejarah, ada beberapa kasus di mana AS melakukan intervensi militer untuk menangkap atau menahan pemimpin asing, biasanya dengan alasan keamanan nasional, narkotika, atau kejahatan perang. Kasus-kasus ini sering kontroversial dan melibatkan invasi atau operasi khusus.
Berikut daftar utama berdasarkan catatan sejarah hingga Januari 2026 :
1. Manuel Noriega (Pemimpin De Facto Panama, 1983–1989)
Noriega, mantan sekutu CIA yang menjadi diktator militer Panama, ditangkap oleh pasukan AS pada 3 Januari 1990 selama Operasi Just Cause (invasi AS ke Panama pada Desember 1989). Ia dituduh terlibat perdagangan narkoba dan ancaman terhadap warga AS. Noriega dibawa ke AS, diadili di pengadilan federal Miami, dan dijatuhi hukuman 40 tahun penjara (kemudian dikurangi).
Ia meninggal pada 2017 setelah diekstradisi ke Panama dan Prancis. Kasus ini menjadi preseden untuk penangkapan pemimpin asing atas dakwaan kriminal AS.
2. Saddam Hussein (Presiden Irak, 1979–2003)
Saddam ditangkap oleh pasukan AS pada 13 Desember 2003 di Ad-Dawr, dekat Tikrit, selama Operasi Red Dawn pasca-invasi Irak 2003. Ia bersembunyi di lubang bawah tanah setelah rezimnya runtuh.
Saddam diserahkan ke pemerintah Irak sementara, diadili oleh pengadilan Irak atas kejahatan terhadap kemanusiaan, dan dieksekusi pada 2006. Penangkapan ini bagian dari perang melawan terorisme dan tuduhan senjata pemusnah massal (yang ternyata salah).
3. Nicolás Maduro (Presiden Venezuela, 2013–2026)
Maduro, presiden Venezuela yang kontroversial, ditangkap oleh pasukan khusus AS pada 3 Januari 2026 dalam operasi militer mendadak, bersama istrinya Cilia Flores. Operasi ini mirip dengan penangkapan Noriega (tepat 36 tahun kemudian) dan didasarkan pada dakwaan narko-terorisme serta hadiah penangkapan $50 juta.
Maduro dibawa ke AS untuk diadili di New York. Kasus ini memicu kritik internasional atas pelanggaran kedaulatan, tapi AS membenarkannya sebagai penegakan hukum terhadap “kartel narkoba”.
Catatan Tambahan
- Kasus lain seperti Emilio Aguinaldo (pemimpin Filipina, ditangkap AS pada 1901 selama Perang Filipina-Amerika) sering disebut, tapi ia lebih sebagai pemimpin pemberontak daripada kepala negara resmi.
- Beberapa pemimpin seperti Juan Orlando Hernández (mantan presiden Honduras) diekstradisi ke AS pada 2022 atas tuduhan narkoba, tapi bukan ditangkap langsung oleh AS di negaranya.
- AS tidak sering melakukan ini karena risiko diplomatik tinggi, dan biasanya memilih sanksi, ekstradisi, atau dukungan coup daripada penangkapan langsung.