JAKARTA – Keputusan Liverpool menggelontorkan dana sebesar £116 juta atau sekitar Rp2,5 triliun musim ini untuk merekrut Florian Wirtz kini mulai dipertanyakan setelah performanya dinilai jauh dari ekspektasi.
Sorakan negatif sudah terdengar sejak awal laga ketika Wirtz melakukan kesalahan sederhana hanya dalam 53 detik pertama saat menghadapi Manchester United di Old Trafford.
Alih-alih menjadi pembeda dalam laga krusial, gelandang asal Jerman itu justru tampil di bawah standar saat Liverpool takluk 2-3 dari rival abadinya tersebut.
Kekalahan ini memperparah situasi The Reds yang kini harus berjuang keras mengamankan tiket Liga Champions setelah menjalani musim tanpa gelar.
Mengutip laporan Liverpool.com, penurunan performa Liverpool musim ini memang dipengaruhi banyak faktor, namun kontribusi Wirtz yang belum maksimal menjadi salah satu sorotan utama.
Didatangkan sebagai talenta generasi emas Eropa, ekspektasi tinggi langsung dibebankan kepada pemain berusia 23 tahun itu sejak kedatangannya dari Bayer Leverkusen.
Legenda Liverpool, Jamie Carragher, secara terbuka mengkritik performa Wirtz yang dinilai terlalu “aman” dan minim dampak nyata di lapangan.
“Saya rasa Florian Wirtz mendapat terlalu banyak kelonggaran, kami sudah sangat sabar, tetapi hingga kini permainannya masih biasa saja,” ujar Carragher.
Secara statistik, performa Wirtz dalam laga melawan Manchester United menunjukkan kontribusi yang minim dan kurang efektif.
Ia tidak mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran, hanya berhasil melewati lawan sekali, dan menyentuh bola dua kali di area penalti lawan sepanjang pertandingan.
Jumlah tersebut bahkan setara dengan pemain muda Rio Ngumoha yang hanya bermain selama 15 menit.
Distribusi bola Wirtz juga tergolong buruk dengan hanya tiga umpan ke sepertiga akhir lapangan, kalah dari dua bek tengah Manchester United.
Kesalahan kehilangan bola yang dilakukannya bahkan berujung pelanggaran yang menjadi awal terciptanya gol pembuka Matheus Cunha.
Situasi ini jelas tidak sesuai dengan harapan manajemen Liverpool dan pelatih Arne Slot saat merekrutnya dari persaingan klub-klub elite Eropa.
Dalam 15 pertandingan terakhir, Wirtz hanya mampu mencetak tiga gol dan dua assist, angka yang dinilai belum mencerminkan statusnya sebagai pemain mahal.
Perbandingan dengan Bruno Fernandes semakin memperjelas perbedaan kontribusi, di mana gelandang Manchester United itu justru tampil dominan dan mendekati rekor assist Liga Inggris.
Secara permainan, Wirtz terlihat kesulitan menghadapi intensitas dan fisik Premier League yang tinggi.
Ia beberapa kali kalah duel dari pemain seperti Casemiro, Kobbie Mainoo, hingga Bruno Fernandes yang tampil lebih agresif.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa Wirtz masih belum sepenuhnya beradaptasi dengan gaya permainan sepak bola Inggris.
Padahal, sempat ada peningkatan performa ketika ia mencetak lima gol dan tiga assist dalam 11 pertandingan pada Desember hingga Januari.
Namun, konsistensi kembali menjadi masalah yang membuat kontribusinya menurun drastis di paruh akhir musim.
Dalam sebuah wawancara, Wirtz mengakui bahwa dirinya masih berproses dan menghadapi tantangan besar di Premier League.
“Saya tahu klub membayar mahal untuk saya, awalnya sulit karena ingin langsung memberi dampak, tetapi saya terus berkembang,” kata Wirtz.
Meski demikian, alasan adaptasi mulai kehilangan relevansi seiring waktu yang terus berjalan.
Berbeda dengan Alexander Isak yang sempat terkendala cedera, Wirtz tidak memiliki alasan kuat untuk menutupi performanya yang inkonsisten.
Pelatih Arne Slot pun menegaskan pentingnya memaksimalkan potensi duet Wirtz dan Isak yang sejauh ini belum memberikan kontribusi signifikan.
Menjelang akhir musim, Liverpool kemungkinan masih mampu mengamankan posisi empat besar, namun tekanan terhadap Wirtz dipastikan akan meningkat drastis musim depan.
Jika tidak segera menunjukkan peningkatan, kesabaran suporter Liverpool terhadap rekrutan termahal klub ini diprediksi akan segera habis.***