Suasana belajar yang tenang di sebuah sekolah menengah di Provinsi Kahramanmaras Turki berubah menjadi horor pada Rabu (15/4/2026). Seorang siswa nekat melepaskan tembakan secara acak ke arah rekan dan gurunya, menyebabkan empat orang tewas dan 20 lainnya luka-luka.
Gubernur Kahramanmaras, Mukerrem Unluer, mengonfirmasi bahwa korban tewas terdiri dari seorang guru dan tiga siswa. Pelaku diduga membawa senjata api milik ayahnya yang disembunyikan di dalam ransel.
“Dia memasuki dua ruang kelas dan melepaskan tembakan membabi buta. Rekaman evakuasi menunjukkan situasi yang sangat mencekam; ambulans berlalu-lalang sementara para orang tua menangis histeris di depan gerbang sekolah,” ungkap Unluer.
Rentetan Teror yang Meresahkan
Tragedi ini terjadi hanya berselang satu hari setelah insiden serupa mengguncang Provinsi Sanliurfa pada Selasa (14/4). Di sana, seorang mantan siswa berusia 19 tahun menyerang sekolah lamanya dengan senapan jenis shotgun.
Dalam aksi di Sanliurfa, pelaku memberondong tembakan mulai dari halaman hingga masuk ke dalam gedung, melukai 16 orang. Aksi tersebut berakhir tragis ketika pelaku memilih mengakhiri hidupnya sendiri tepat saat polisi tiba untuk mengepungnya.
Penyelidikan Skala Nasional
Menteri Kehakiman Turkiye, Akin Gurlek, menegaskan bahwa jaksa penuntut telah melakukan penyelidikan segera untuk mengungkap motif di balik penembakan di Kahramanmaras. Polisi kini memperketat keamanan di seluruh area sekolah untuk mencegah adanya serangan susulan atau peniru (copycat crime).
Rentetan penembakan dalam dua hari berturut-turut ini memicu perdebatan panas di publik Turkiye mengenai akses senjata api di lingkungan rumah dan keamanan di institusi pendidikan yang kini tampak kian rapuh.