JAKARTA – Setelah menyapa penonton bioskop sejak akhir Februari 2025, film horor bertema budaya Tionghoa bertajuk Pernikahan Arwah kini resmi tayang di Netflix mulai Kamis, 3 Juli 2025.
Kabar ini disambut antusias oleh penikmat film horor lokal yang penasaran dengan kisah spiritual di balik film ini.
Film Pernikahan Arwah merupakan hasil kolaborasi penulis Ario Sasongko dan Aldo Swastia, serta disutradarai oleh Paul Agusta.
Kisah yang sarat unsur budaya dan supranatural ini diperankan oleh Morgan Oey sebagai Salim dan Zulfa Maharani sebagai Tasya.
Alur cerita berpusat pada praktik pernikahan arwah, sebuah kepercayaan yang berkembang di kalangan masyarakat Tionghoa.
Selain dua pemeran utama, film ini juga dibintangi oleh sejumlah aktor berbakat seperti Jourdy Pranata, Brigitta Cynthia, Verdi Sulaeman, hingga Ama Gerald.
Dengan latar Lasem, Jawa Tengah, film ini menyuguhkan atmosfer autentik budaya Tionghoa yang hidup di wilayah pesisir utara Pulau Jawa.
Fakta-Fakta Unik Film ‘Pernikahan Arwah’ di Netflix:
1. Tradisi Mistis Minghun di Tengah Cerita
Tradisi minghun atau pernikahan roh menjadi elemen utama dalam film ini.
Kepercayaan kuno ini menyebutkan bahwa roh seseorang yang meninggal tanpa pasangan akan mengalami kesepian di alam baka.
Untuk menghindari kemalangan, keluarga melakukan prosesi pernikahan antara sesama arwah atau antara orang hidup dengan roh orang yang telah tiada.
2. Ritual Asli dalam Proses Syuting
Salah satu aspek paling mengejutkan dari film ini adalah penggunaan ritual pemanggilan arwah yang diambil langsung dari praktik budaya Tionghoa.
Verdi Sulaeman, yang memerankan karakter Ko Chungcun, menyebut bahwa mantra-mantra yang dibacakan saat syuting merupakan adaptasi dari versi aslinya.
3. Didukung Deretan Aktor Ternama dan Bertalenta
Film ini menghadirkan kekuatan akting dari sejumlah nama populer dan pendatang baru berbakat.
Morgan Oey dan Zulfa Maharani tampil memukau sebagai pasangan utama, didampingi oleh Jourdy Pranata, Brigitta Cynthia, Verdi Sulaeman, Puty Syahrul, dan lainnya.
4. Lokasi Syuting Otentik di Lasem, Jawa Tengah
Untuk mendalami budaya Tionghoa yang tumbuh di Indonesia, Pernikahan Arwah mengambil lokasi syuting di Lasem.
sebuah kota tua di pesisir Jawa Tengah yang dikenal sebagai pusat akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa.
Pengambilan gambar di lokasi ini menambah nuansa etnik dan historis dalam film.
5. Inspirasi Cerita Diambil dari Penelitian Budaya Asli
Proses penulisan naskah Pernikahan Arwah tidak sembarangan.
Ario Sasongko dan Aldo Swastia melakukan riset mendalam terhadap praktik minghun yang masih dijumpai di beberapa komunitas Tionghoa tradisional di Asia, termasuk di Indonesia.
Mereka juga menggali cerita-cerita rakyat dan mitos turun-temurun yang berkaitan dengan dunia arwah dan pernikahan spiritual.
6. Dominasi Simbolisme Warna dan Unsur Fengshui
Dalam film ini, kamu akan menemukan banyak penggunaan simbol dan warna khas budaya Tionghoa.
Seperti merah dan emas yang kerap dikaitkan dengan keberuntungan, serta hitam yang melambangkan dunia arwah.
Penataan lokasi, properti, dan kostum juga mengikuti prinsip fengshui yang dipercaya dapat memengaruhi energi spiritual dan suasana mistis.
7. Syuting Dilakukan di Rumah Tua yang Konon Angker
Beberapa adegan film diambil di bangunan-bangunan tua di Lasem yang dipercaya warga sekitar memiliki aura mistis.
Beberapa kru bahkan mengaku mengalami gangguan tak kasat mata selama proses pengambilan gambar.
Termasuk suara-suara aneh dan lampu yang padam tiba-tiba. Namun, tidak ada insiden besar selama produksi berlangsung.
8. Cerita Cinta yang Tragis dan Menyentuh
Meskipun dibalut suasana horor, inti dari film ini tetap berkisar pada cinta yang terputus oleh kematian.
Karakter Tasya dan Salim digambarkan mengalami konflik batin yang mendalam karena perbedaan dunia mereka.
Unsur drama ini memperkuat sisi emosional film dan membuatnya lebih dari sekadar kisah menyeramkan.
9. Kombinasi Musik Tradisional dan Suara Ambient Mistis
Musik latar film ini dipadukan dari alat musik tradisional Tionghoa seperti erhu dan guqin, serta efek ambient gelap yang menciptakan suasana tegang.
Soundtrack tersebut secara khusus disusun untuk menggambarkan perpaduan antara keindahan tradisi dan kengerian dunia arwah.
10. Kritik Sosial Tersirat tentang Tekanan Budaya
Film ini secara halus juga menyinggung bagaimana tekanan budaya dan ekspektasi keluarga bisa mengganggu kehidupan seseorang.
Karakter utama terjebak antara cinta sejati dan tradisi yang harus dipenuhi demi menjaga nama baik keluarga dan leluhur.***