JAKARTA – Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,2 mengguncang wilayah Tomohon, Sulawesi Utara (Sulut), Senin (2/11/2026) sore. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa tersebut dipicu deformasi di dalam lempeng atau intraslab Laut Maluku dan dipastikan tidak berpotensi tsunami.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan, gempa terjadi pada pukul 15.13.10 WIB. Berdasarkan hasil analisis terbaru, pusat gempa berada pada kedalaman 135 kilometer.
“Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 1,28° LU dan 124,84° BT, atau tepatnya berlokasi di darat 4 kilometer barat daya Tomohon, Sulawesi Utara,” ujar Wijayanto.
Dia menjelaskan, berdasarkan hasil analisis mekanisme sumber, gempa tersebut termasuk gempa bumi menengah yang terjadi akibat aktivitas deformasi di dalam lempeng Laut Maluku. Mekanisme pergerakannya berupa geser turun atau oblique normal.
Meski berpusat di darat, gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Kepastian itu diperoleh berdasarkan hasil pemodelan yang dilakukan BMKG.
Getaran gempa dilaporkan dirasakan di sejumlah wilayah, meski dengan intensitas berbeda. Di Ternate, getaran mencapai skala intensitas II-III MMI.
Pada skala tersebut, guncangan dirasakan nyata oleh masyarakat yang berada di dalam rumah. Sensasinya menyerupai getaran ketika sebuah truk melintas di dekat lokasi.
Sementara itu, di wilayah Minahasa, gempa dirasakan dengan intensitas II MMI. Pada tingkat tersebut, getaran hanya dirasakan oleh beberapa orang dan benda-benda ringan yang digantung tampak bergoyang.
BMKG juga terus memantau perkembangan aktivitas kegempaan setelah peristiwa tersebut. Berdasarkan hasil pemantauan hingga pukul 15.30 WIB, belum terdeteksi adanya aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock.
Wijayanto mengatakan, pemantauan akan terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas gempa di wilayah tersebut. BMKG juga akan menyampaikan informasi terbaru kepada para pemangku kepentingan dan masyarakat apabila terdapat perkembangan.
Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi atau isu yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Warga juga diminta menghindari bangunan yang mengalami keretakan maupun kerusakan akibat guncangan gempa.
Langkah tersebut perlu diperhatikan untuk menghindari risiko yang mungkin timbul dari kondisi bangunan pascagempa. Masyarakat diharapkan mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG terkait perkembangan aktivitas gempa di wilayah Sulawesi Utara.