JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat di 18 wilayah pesisir Indonesia untuk mewaspadai potensi banjir rob pada November 2026. Fenomena fase Bulan Baru diperkirakan memicu peningkatan ketinggian air laut maksimum yang berisiko menyebabkan genangan di sejumlah kawasan pesisir.
Peringatan dini tersebut dikeluarkan Direktorat Meteorologi Maritim BMKG berdasarkan hasil pemantauan dinamika pesisir, data tinggi muka air laut (water level), serta prediksi pasang surut harian. Potensi kenaikan pasang air laut diprakirakan terjadi pada 9 November 2026.
Sebanyak 18 wilayah pesisir yang masuk dalam pemantauan BMKG tersebar di sejumlah provinsi, mulai dari Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Kalimantan, hingga Maluku.
Di Pulau Sumatra, wilayah yang berpotensi terdampak meliputi pesisir Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Barat, Kepulauan Bangka Belitung, dan Lampung.
Sementara di Pulau Jawa, potensi banjir rob perlu diantisipasi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Ancaman kenaikan pasang air laut juga mencakup pesisir Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Adapun di Kalimantan, wilayah yang masuk dalam daftar kewaspadaan meliputi Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Di kawasan Indonesia timur, pesisir Maluku turut menjadi salah satu wilayah yang perlu mengantisipasi potensi banjir rob tersebut.
BMKG mengingatkan dampak kenaikan muka air laut tidak hanya berpotensi menggenangi permukiman warga, tetapi juga mengganggu berbagai aktivitas masyarakat di kawasan pesisir.
Sejumlah kegiatan yang berisiko terdampak antara lain aktivitas bongkar muat di pelabuhan, mobilitas masyarakat di sekitar pantai, hingga kegiatan ekonomi yang bergantung pada kondisi perairan.
Sektor tambak garam dan perikanan darat juga perlu mewaspadai potensi genangan akibat pasang maksimum air laut. Kondisi tersebut dapat menghambat aktivitas produksi masyarakat apabila air laut meluap ke kawasan usaha maupun permukiman.
Menghadapi potensi tersebut, BMKG meminta masyarakat di wilayah pesisir yang masuk dalam daftar peringatan dini untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah antisipasi sejak awal.
Masyarakat juga diimbau terus memperbarui informasi mengenai kondisi cuaca dan pasang surut air laut melalui kanal resmi BMKG. Pemantauan secara berkala diperlukan agar warga dapat mengetahui perkembangan potensi banjir rob dan menyesuaikan aktivitas di kawasan pesisir.
Informasi mengenai kondisi maritim dapat diakses melalui situs maritim.bmkg.go.id maupun akun media sosial resmi X dan Instagram @BMKGmaritim.
Masyarakat juga dapat menghubungi layanan informasi BMKG melalui nomor 021-6546315/18 atau layanan 196. Selain itu, warga bisa mendatangi kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG terdekat untuk memperoleh informasi lebih lanjut.
BMKG mengingatkan kewaspadaan perlu ditingkatkan terutama menjelang periode pasang maksimum pada 9 November 2026, sehingga potensi gangguan terhadap permukiman dan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir dapat diantisipasi lebih dini.