KEFAMENANU, NTT – Kasus meninggalnya dokter muda Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha terus menjadi perhatian publik setelah muncul dugaan adanya intimidasi yang dialaminya saat menjalankan tugas sebagai tenaga medis di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur.
Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melki Laka Lena menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak akan membiarkan proses penanganan perkara tersebut berhenti di tengah jalan dan memastikan seluruh tahapan hukum berjalan secara terbuka demi mengungkap fakta yang sebenarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Melki saat bersama istri dan Wakil Gubernur Johni Asadoma mengunjungi rumah duka almarhumah di kawasan Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, Minggu (28/6/2026), sebagai bentuk penghormatan sekaligus dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan.
Suasana duka menyelimuti kediaman keluarga ketika ayah almarhumah menyampaikan harapannya agar keadilan tidak hanya diberikan kepada putrinya, tetapi juga menjadi jaminan perlindungan bagi seluruh tenaga kesehatan yang mengabdikan diri di NTT.
Dalam kesempatan itu, Melki menyampaikan bahwa kehadirannya bukan sekadar menyampaikan belasungkawa, melainkan membawa komitmen pemerintah untuk mendampingi keluarga dalam mencari keadilan.
“Kami datang bukan hanya membawa ucapan belasungkawa, tetapi membawa rasa empati dan komitmen bahwa keluarga tidak boleh merasa berjalan sendiri,” tulis Gubernur melki di akun FB-nya.
Melki mengungkapkan bahwa informasi mengenai dugaan intimidasi terhadap dr. Icha telah diterimanya sejak awal sehingga dirinya langsung melakukan koordinasi dengan berbagai pihak agar persoalan tersebut dapat ditangani secara tepat.
Meski demikian, kabar wafatnya dokter muda tersebut disebutnya menjadi kehilangan besar yang menyisakan duka mendalam bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur.
“Namun kabar kepergian dokter Icha menjadi pukulan bagi kita semua. dr. Icha bukan hanya seorang dokter, tetapi seorang anak bangsa yang mengabdikan dirinya untuk menyelamatkan nyawa masyarakat, termasuk dengan keahlian khususnya menangani kasus gigitan ular berbisa di wilayah NTT.”
Menurut keterangan keluarga, hasil pemeriksaan menyebutkan bahwa dr. Icha mengalami depresi berat tanpa gejala psikotik setelah menghadapi tekanan psikologis yang diduga berkaitan dengan situasi di tempat kerjanya.
Kasus tersebut kini menjadi perhatian aparat penegak hukum yang sedang melakukan penyelidikan terhadap dugaan intimidasi, termasuk memeriksa sejumlah pihak yang berkaitan dengan perkara tersebut.
Gubernur NTT menegaskan bahwa proses hukum harus berlangsung profesional, objektif, dan transparan sehingga seluruh fakta dapat terungkap tanpa intervensi dari pihak mana pun.
“Saya meminta aparat penegak hukum bekerja secara profesional dan transparan. Biarkan proses berjalan, agar semua menjadi terang. Siapa pun yang terbukti terlibat harus bertanggung jawab sesuai hukum yang berlaku.”
Melki juga mengingatkan bahwa tenaga medis merupakan garda terdepan pelayanan kesehatan sehingga mereka berhak memperoleh perlindungan saat menjalankan tugas kemanusiaan.
Ia menilai setiap dokter, perawat, maupun tenaga kesehatan harus bekerja dalam lingkungan yang aman tanpa tekanan ataupun rasa takut yang dapat mengganggu pelayanan kepada masyarakat.
Menutup pernyataannya, Melki mengajak seluruh masyarakat mendoakan keluarga almarhumah agar diberikan ketabahan dalam menghadapi cobaan tersebut sekaligus berharap proses hukum mampu menghadirkan keadilan yang sesungguhnya.
“NTT berduka. Kita semua berharap kebenaran menemukan jalannya. Mari kita doakan keluarga dokter Icha diberikan kekuatan dan ketabahan,” pungkasnya.***
