Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan rentetan gempa susulan (aftershocks) masih terus membayangi wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pascadiguncang gempa utama bermagnitudo 7,7. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tercatat sebanyak 9.765 gempa susulan telah terjadi, dengan 155 guncangan di antaranya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, membeberkan dinamika kegempaan tersebut dalam siaran pers daring pada Minggu (30/8/2026).
“Data BMKG mencatat ada 9.765 gempa susulan yang terjadi, dan 155 kali guncangan di antaranya dirasakan warga. Gempa susulan terbesar tercatat bermagnitudo 6,2, sementara yang terkecil M 1,0,” terang Berton.
Berton menambahkan, fenomena gempa susulan seperti ini diperkirakan masih akan berlangsung selama 3 hingga 4 minggu pascagempa utama.
Update Korban Jiwa dan Sebaran Pengungsi
BNPB mengonfirmasi tidak ada penambahan angka kematian, di mana jumlah korban jiwa terdata tetap 111 orang. Sementara itu, korban luka-luka tercatat sebanyak 1.631 orang, dengan rincian 233 orang mengalami luka berat dan 1.408 orang menderita luka ringan.
Dampak gempa juga memaksa 188.161 jiwa bertahan di posko pengungsian. Sebagian besar warga yang mengungsi terpusat di dua kabupaten utama yaitu Kabupaten Nagekeo 50.574 jiwa dan Kabupaten Manggarai: 50.556 jiwa
Selain dampak kemanusiaan, kerusakan infrastruktur pemukiman tergolong cukup masif. BNPB mencatat sebanyak 95.567 unit rumah warga mengalami kerusakan.
“Data sementara mencatat sekitar 95.567 unit rumah rusak. Tim di lapangan nantinya akan melakukan verifikasi teknis untuk mengategorikan tingkat kerusakannya, mulai dari rusak ringan, sedang, hingga rusak berat,” pungkas Berton.



