JAKARTA – Tepat pada Jumat, (3/7/2026), genosida Israel di Jalur Gaza memasuki hari ke-1.000 sejak serangan awal pada 7 Oktober 2023. Konflik yang berlangsung lebih dari dua tahun delapan bulan ini telah menimbulkan dampak kemanusiaan paling parah di wilayah tersebut, dengan ribuan korban jiwa dan kehancuran infrastruktur massal.
Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza yang kerap dikutip lembaga internasional seperti PBB, lebih dari 73.000 warga Palestina tewas dan sekitar 173.000 lainnya luka-luka akibat operasi militer Israel. Angka ini diyakini masih undercount karena banyak korban yang tertimbun reruntuhan atau meninggal karena kelaparan, penyakit, dan kurangnya akses kesehatan.
Dampak Kemanusiaan yang Mengerikan
Selama 1.000 hari tersebut, Gaza mengalami kehancuran luar biasa. Puluhan ribu bangunan hancur, termasuk rumah sakit, sekolah, masjid, dan universitas. Lebih dari 80% wilayah permukiman rusak berat, memaksa hampir seluruh penduduk Gaza mengungsi berulang kali. Blokade ketat terhadap bantuan kemanusiaan memperburuk krisis kelaparan dan penyakit menular.
Banyak organisasi hak asasi manusia, ahli hukum internasional, serta beberapa negara menyatakan bahwa tindakan Israel memenuhi kriteria genosida berdasarkan Konvensi Genosida PBB. Tuduhan ini mencakup pembunuhan massal warga sipil, penghancuran sistem kesehatan, dan pembatasan akses bantuan. Israel dan sekutunya menolak tuduhan tersebut, dengan menyatakan operasi militer sebagai respons terhadap serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya.
Situasi Terkini Pasca-Gencatan Senjata
Meski gencatan senjata brokered oleh AS berlaku sejak Oktober 2025, ketegangan tetap tinggi. Israel dilaporkan masih menguasai sebagian besar wilayah Gaza, sementara negosiasi pertukaran sandera dan rekonstruksi berjalan lambat. Di sisi lain, warga Israel juga memperingati 1.000 hari sejak serangan 7 Oktober dengan aksi peringatan dan tuntutan penyelidikan pemerintah.
Seruan Internasional
Organisasi internasional kembali mendesak gencatan senjata permanen, akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, dan penyelidikan independen atas dugaan pelanggaran hak asasi. Rekonstruksi Gaza diperkirakan membutuhkan puluhan miliar dolar dan waktu bertahun-tahun.
Konflik yang berkepanjangan ini tidak hanya meninggalkan luka mendalam bagi kedua belah pihak, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan perdamaian di Timur Tengah. Dunia terus menyaksikan, sementara korban sipil yang tak berdosa menjadi yang paling menderita.