JAKARTA – Hari ini, Tentara Nasional Indonesia (TNI) memasuki usia ke-80 dengan penuh kebanggaan, ditandai oleh upacara megah di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 TNI ini tidak hanya menjadi momen refleksi atas dedikasi para prajurit, tetapi juga pengingat akan perjalanan panjang sejarah TNI yang lahir dari semangat perjuangan kemerdekaan bangsa.
Sejarah TNI bermula dari era pasca-proklamasi kemerdekaan, ketika Indonesia baru saja lepas dari cengkeraman Jepang. Pada 23 Agustus 1945, lahir Badan Keamanan Rakyat (BKR) sebagai langkah awal untuk menjaga kedaulatan wilayah. BKR, yang berada di bawah naungan Komite Nasional Indonesia (KNI) di berbagai daerah, bertugas mengamankan stabilitas nasional di tengah kekosongan kekuasaan.
Namun, situasi politik yang tegang mendorong gagasan untuk memperluas peran BKR menjadi entitas militer yang lebih kokoh, melibatkan para veteran dari Pembela Tanah Air (PETA), Heiho, dan pasukan KNIL yang sebelumnya tergabung dalam BKR.
Gagasan ini sempat menuai perdebatan di kalangan pemimpin bangsa. Presiden pertama Indonesia, Soekarno—yang akrab disapa Bung Karno—lebih condong pada pendekatan diplomasi untuk menghindari konflik berdarah. Meski awalnya ragu, Bung Karno akhirnya merestui pembentukan angkatan perang resmi. Pada 5 Oktober 1945, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) resmi berdiri sebagai kekuatan bersenjata pertama yang dibentuk oleh pemerintahan Indonesia. Keputusan ini dipicu oleh urgensi kedatangan pasukan Sekutu yang mengancam kedaulatan muda bangsa, menjadikan TKR sebagai benteng pertahanan darurat.
Untuk memimpin TKR, Mayor Oerip Soemohardjo—seorang mantan perwira KNIL yang berpengalaman—ditunjuk sebagai Kepala Staf. Di bawah kepemimpinannya, Markas Besar Umum TKR didirikan di Yogyakarta, yang kala itu menjadi pusat perlawanan. Langkah ini tidak hanya mengkoordinasikan operasi militer, tetapi juga meletakkan fondasi bagi transformasi TKR menjadi struktur TNI yang lebih terorganisir.
Dari sini, TNI terus berevolusi: melewati berbagai fase reorganisasi, menghadapi agresi militer Belanda, hingga kini menjadi tentara modern dengan teknologi canggih seperti kapal selam kelas Naghoskodam dan jet tempur F-15EX, siap menjaga integritas NKRI di era digital.
Peringatan HUT ke-80 TNI tahun ini menekankan tema “TNI Manunggal dengan Rakyat”, mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus mendukung peran TNI dalam menjaga perdamaian dan pembangunan. Dengan sejarah panjang TNI yang penuh liku, pasukan ini tetap menjadi simbol ketangguhan Indonesia.