JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Jumat, 10 Juli 2026, dengan mencatatkan penguatan pada sesi pembukaan.
IHSG dibuka di posisi 5.936,04 atau naik 23,6 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Kenaikan tersebut melanjutkan tren positif setelah sehari sebelumnya indeks berakhir menguat 0,67 persen ke level 5.912,44.
Penguatan IHSG masih berlanjut hingga pertengahan sesi pertama ke level 5.937,03
naik 24,59 poin atau 0.42 persen.
Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih bergerak terbatas dengan pola sideways pada kisaran 5.800 hingga 6.000.
Secara teknikal, peluang penguatan dinilai belum sepenuhnya kuat karena masih menghadapi sejumlah hambatan.
Pergerakan indeks disebut masih tertahan di area rata-rata pergerakan lima hari atau MA5.
Indikator Stochastic RSI juga mulai menunjukkan potensi terbentuknya pola Death Cross.
Di sisi lain, histogram MACD masih bertahan di area positif sehingga tekanan jual belum sepenuhnya mendominasi.
“Secara teknikal, penguatan IHSG tertahan di MA5 dengan Stochastic RSI yang berpotensi mengalami Death Cross.”
“Namun histogram MACD masih bertahan di area positif,” ujar Tim Analis Phintraco Sekuritas di Jakarta, 10 Juli 2026.
Dari sisi fundamental, penjualan sepeda motor nasional menunjukkan perbaikan selama Juni 2026.
Penjualan mencapai 515.136 unit atau meningkat 1,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Secara bulanan, penjualan melonjak 7,5 persen setelah sempat terkoreksi delapan persen pada Mei 2026.
Meski membaik, penjualan sepanjang semester pertama 2026 masih turun 0,3 persen secara tahunan.
Total penjualan selama enam bulan pertama mencapai sekitar 3,13 juta unit.
Angka tersebut baru memenuhi sekitar 46,7 hingga 48,9 persen dari target AISI tahun 2026.
AISI menargetkan penjualan sepeda motor nasional berada pada kisaran 6,4 hingga 6,7 juta unit tahun ini.
Sementara itu, data penjualan ritel masih menunjukkan pelemahan yang berlanjut.
Penjualan ritel Mei 2026 turun 3,9 persen secara tahunan setelah April terkoreksi 3,7 persen.
Penurunan selama dua bulan berturut-turut mencerminkan melemahnya aktivitas belanja masyarakat.
Pelaku pasar kini menunggu data penjualan mobil Juni 2026 sebagai petunjuk baru kondisi konsumsi domestik.
“Pelemahan ini merupakan penurunan selama dua bulan berturut-turut dan koreksi tahunan terdalam sejak Mei 2023.”
“Hal ini mengindikasikan melemahnya belanja konsumen di tengah meningkatnya inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar non subsidi dan harga makanan,” katanya.
Kondisi tersebut membuat investor tetap mencermati perkembangan data ekonomi sebelum menentukan arah investasi berikutnya.***