JAKARTA – Rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (8/7/2026) pagi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Nilai tukar rupiah dibuka melemah 4 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp17.984 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya di level Rp17.980 per dolar AS.
Hingga berita ini diturunkan, pertengahaan sesi pertama hari ini, rupiah di level Rp18.005 per dolar AS, terdepresiasi 0,14 persen.
Pergerakan mata uang Garuda masih dibayangi sentimen eksternal yang mendorong pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai meningkatnya konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah.
“Penyerangan besar AS ke Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz,” ucapnya dikutip dari Antara, Rabu.
Ketegangan tersebut meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan operasi militer baru terhadap Iran melalui Komando Pusat AS atau CENTCOM.
Operasi itu disebut sebagai respons atas serangan yang sebelumnya menargetkan tiga kapal dagang di kawasan strategis Selat Hormuz.
Laporan media Iran IRIB menyebut kapal Qatar Al-Rekayyat yang melintas melalui jalur Oman dengan dukungan Angkatan Laut AS turut menjadi sasaran serangan.
Insiden tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan jalur perdagangan energi dunia.
Meningkatnya risiko geopolitik membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dinilai lebih aman sehingga memberi tekanan pada mata uang negara berkembang.
Di sisi domestik, pasar sebenarnya memperoleh sentimen positif dari meningkatnya posisi cadangan devisa Indonesia.
Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa pada akhir Juni 2026 mencapai 145,6 miliar dolar AS.
Angka tersebut naik sekitar 700 juta dolar AS dibanding posisi akhir Mei 2026 yang sebesar 144,9 miliar dolar AS.
Peningkatan cadangan devisa terutama ditopang penerimaan pajak serta penerimaan sektor jasa.
Kenaikan itu terjadi meski pemerintah tetap melakukan pembayaran utang luar negeri dan Bank Indonesia menjalankan kebijakan stabilisasi rupiah.
Cadangan devisa Indonesia saat ini setara pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Posisi tersebut masih jauh di atas standar kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor.
Meski fundamental eksternal cukup terjaga, pelaku pasar masih menunggu sejumlah indikator ekonomi dalam negeri.
“Namun, investor masih mengantisipasi indeks kepercayaan konsumen siang ini yang diperkirakan akan naik ke 125,” ungkap Lukman.
Ia memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak dalam rentang Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.***