JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Jumat (10/7/2026) dengan kinerja positif setelah ditutup menguat ke level 5.924,36.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 11,92 poin atau setara 0,20 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Penguatan tersebut menjadi sinyal optimisme pelaku pasar menjelang berakhirnya pekan perdagangan di Bursa Efek Indonesia.
Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif sebelum akhirnya bertahan di zona hijau hingga penutupan pasar.
Pada awal perdagangan, indeks sempat dibuka lebih tinggi di posisi 5.936,04.
Di tengah aktivitas transaksi, IHSG juga sempat turun hingga menyentuh level terendah 5.887,83.
Meski demikian, tekanan jual berhasil diredam sehingga indeks kembali menguat pada akhir sesi.
Pergerakan saham didominasi emiten yang mencatatkan kenaikan harga dibandingkan saham yang melemah.
Sebanyak 364 saham ditutup menguat selama perdagangan berlangsung.
Di sisi lain, terdapat 241 saham yang mengalami penurunan harga.
Sementara itu, sebanyak 185 saham bergerak stagnan tanpa perubahan berarti.
Nilai transaksi di seluruh pasar mencapai sekitar Rp8,8 triliun.
Volume perdagangan tercatat mencapai 18,5 miliar lembar saham.
Frekuensi transaksi juga tergolong tinggi dengan lebih dari 1,9 juta kali perdagangan.
Pelaku pasar mencermati berbagai sentimen eksternal yang memberikan dorongan positif terhadap bursa saham kawasan Asia.
Harapan berlanjutnya proses diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor yang meningkatkan minat investor.
Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas melihat sentimen global tersebut menjadi katalis utama penguatan pasar.
“Jelang akhir pekan ini, indeks IHSG dan bursa regional Asia bergerak menguat. AS dan Iran akan melanjutkan negosiasi perdamaian,” tulis Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam analisanya, Jumat, 10 Juli 2026.
Pilarmas menilai sinyal positif juga datang dari komitmen Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tetap membuka ruang perundingan damai dengan Iran.
Langkah tersebut dinilai mampu meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan global.
Prospek negosiasi juga diperkirakan dapat menekan risiko lonjakan inflasi akibat ketidakpastian geopolitik.
Dari faktor domestik, investor turut merespons proyeksi terbaru Dana Moneter Internasional atau IMF.
Dalam laporan World Economic Outlook edisi Juli 2026, IMF mempertahankan estimasi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,0 persen pada 2026.
Untuk 2027, IMF juga masih memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,1 persen.
Proyeksi tersebut memperkuat keyakinan bahwa ekonomi nasional tetap memiliki daya tahan di tengah perlambatan ekonomi dunia.
Pilarmas menilai stabilnya proyeksi IMF menjadi indikator positif bagi prospek pasar keuangan Indonesia.
Kondisi tersebut juga mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai tetap solid dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan maupun ekonomi besar dunia.***