JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di zona merah pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (21/9/2026).
Pada akhir sesi pertama, IHSG berada di level 6.423,51 atau turun 17,65 poin setara 0,27 persen.
Pelemahan juga terjadi pada indeks LQ45 yang turun 2,77 poin atau 0,43 persen ke posisi 637,48.
Tekanan tersebut meneruskan tren negatif yang terjadi pada perdagangan saham akhir pekan sebelumnya.
Pada Jumat (18/9/2026), IHSG ditutup melemah 0,33 persen ke level 6.441.
Tekanan pasar kala itu turut dipengaruhi aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp1,78 triliun.
Sejumlah saham dengan nilai penjualan asing terbesar antara lain BBCA, BMRI, AMMN, TLKM, dan DSSA.
Analis Pasar Modal Tim Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih memiliki ruang untuk bergerak konsolidatif pada perdagangan awal pekan.
“Hari ini, secara teknikal, IHSG diprakirakan konsolidasi di kisaran level 6.400-6.550, jika tembus level 6.400. Untuk itu IHSG akan menguji level 6.300-6.350,” kata Analis Pasar Modal dari Tim Phintraco Sekuritas, Senin, 21 September 2026.
Pasar Menunggu Keputusan Bank Indonesia
Perhatian investor kini tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu.
Tim Phintraco memperkirakan Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 5,75 persen.
“BI kemungkinan masih akan mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen,” ucap Tim Phintraco.
Selain keputusan suku bunga, pelaku pasar juga mencermati perkembangan penyaluran kredit perbankan.
Pertumbuhan kredit Agustus 2026 diperkirakan mencapai 15 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Angka tersebut akan menunjukkan peningkatan dibandingkan pertumbuhan kredit pada Juli 2026 yang tercatat 13,58 persen.
Bursa Global Bergerak Beragam
Sentimen dari pasar global juga menjadi perhatian investor setelah bursa saham Amerika Serikat dan Asia bergerak bervariasi pada akhir pekan.
Di Amerika Serikat, indeks Dow Jones tertekan seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun lebih dari 5 basis poin hingga sekitar 5 persen.
“Imbal hasil US Treasury berbalik menguat karena ekspektasi kebijakan the Fed yang masih akan ‘hawkish’ (ketat) hingga tahun depan,” ucap Tim Phintraco.
Di Jepang, Bank of Japan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen.
Level tersebut menjadi yang tertinggi bagi suku bunga Jepang sejak April 1995.
Harga Minyak Masih Jadi Perhatian
Pergerakan harga komoditas energi turut menjadi faktor yang diperhatikan pasar saham global.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 1,6 persen dan ditutup sekitar USD100 per barel.
Sementara minyak Brent melemah 0,9 persen ke level sekitar USD103 per barel.
Meski terkoreksi, harga minyak yang masih berada di sekitar USD100 per barel menjaga kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
Emas Menguat di Tengah Ketidakpastian
Berbeda dengan minyak, harga emas spot melanjutkan penguatan sebesar 0,3 persen ke posisi USD4.352 per troy ons.
Penguatan emas didukung koreksi harga minyak, meski apresiasi dolar AS membatasi ruang kenaikan komoditas tersebut.
Tim Phintraco menilai perkembangan geopolitik Timur Tengah masih berpotensi memengaruhi pasar saham dunia.
“Konflik di Timur Tengah berpotensi masih akan berpengaruh terhadap pergerakan indeks di bursa saham global. Terutama melalui harga minyak, ekspektasi inflasi dan kenaikan suku bunga,” ujar Tim Phintraco.
Investor juga akan mencermati pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat berikutnya.
Selain kebijakan bank sentral, perhatian pasar tertuju pada agenda pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada 23-25 September 2026.
Pertemuan tersebut menjadi salah satu agenda global yang berpotensi diperhatikan pelaku pasar menjelang perdagangan saham berikutnya.***