JAKARTA – Ekonomi digital Indonesia 2025 diproyeksikan menyentuh kisaran US$100 miliar dan menegaskan posisinya sebagai kekuatan terbesar di Asia Tenggara.
Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia 2025 ini tercermin dari laporan e-Conomy SEA besutan Google, Temasek, dan Bain & Company.
Lonjakan nilai ekonomi digital Indonesia 2025 didorong sektor e-commerce, video commerce, pembayaran digital, hingga adopsi AI yang berkembang sangat cepat.
Ekosistem e-commerce diproyeksikan melejit menjadi US$71 miliar berkat ledakan transaksi hingga 90 persen dan bertambahnya lebih dari 800 ribu penjual daring.
“Konvergensi antara konten dan perdagangan kini tak terelakkan. Indonesia menjadi pasar video commerce terbesar dan dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara,” ujar Country Director Google Indonesia, Veronica Utami, Jumat (14/11/2025).
Partner Bain & Company, Aadarsh Baijal menambahkan bahwa industri digital kawasan tetap tangguh meski dihantam tekanan makroekonomi dalam sepuluh tahun terakhir.
Ia menegaskan bahwa “Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mendekati US$100 miliar pada 2025. Didorong pertumbuhan kuat di sektor video commerce, layanan keuangan digital, media digital, serta adopsi AI,” ucapnya.
Media digital juga mencatat performa kuat dengan nilai yang diprediksi menembus US$9 miliar, terutama didorong pasar gim yang sangat dominan.
Indonesia memegang peran besar di Asia Tenggara dengan kontribusi sekitar 40 persen unduhan gim seluler dan 35 persen pendapatan aplikasi gim.
Layanan transportasi daring dan pesan-antar makanan diperkirakan naik 13 persen hingga mencapai US$10 miliar pada 2025.
Sektor perjalanan daring ikut bangkit dengan proyeksi nilai US$9 miliar seiring pemulihan mobilitas dan perluasan kebijakan visa.
Pembayaran digital mencatat salah satu pertumbuhan tercepat di kawasan dengan potensi transaksi menembus US$538 miliar GTV pada 2025.
Jasa keuangan digital pun menjadi tulang punggung baru berkat ekspansi QRIS dan meningkatnya pembiayaan digital.
Walau begitu, nilai pinjaman digital Indonesia masih berada di bawah Malaysia dan Thailand sehingga mendorong fokus baru pada pembiayaan modal kerja untuk usaha mikro dan kecil.***