TEHERAN, IRAN – Kementerian Intelijen Iran mengumumkan telah menyita sejumlah senjata serta peralatan peledak buatan Amerika Serikat dari beberapa rumah yang diduga digunakan sebagai tempat persembunyian kelompok militan. Temuan ini diungkapkan di tengah eskalasi demonstrasi anti-pemerintah yang berlangsung sejak akhir Desember 2025 dan menyebar ke berbagai wilayah Iran.
Menurut laporan resmi, penyitaan dilakukan di sejumlah lokasi berbeda. Aparat keamanan juga menangkap beberapa anggota kelompok yang disebut sebagai sel teroris. Klaim tersebut muncul bersamaan dengan meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, menyusul peringatan keras Presiden AS Donald Trump terkait penanganan demonstrasi oleh pemerintah Teheran.
Aksi unjuk rasa yang awalnya dipicu krisis ekonomi parah, seperti inflasi tinggi, anjloknya nilai tukar rial, serta kelangkaan energi, kini berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih luas. Jumlah korban tewas akibat bentrokan antara aparat keamanan dan pengunjuk rasa dilaporkan mencapai 646 orang, berdasarkan data terbaru aktivis hak asasi manusia. Lebih dari 10.000 orang disebut telah ditangkap sejak gelombang protes dimulai pada 28 Desember 2025.
Situasi kian memanas setelah pemerintah memberlakukan pemblokiran internet dan komunikasi selama sekitar 100 jam guna membatasi penyebaran informasi serta koordinasi aksi protes. Bentrokan keras terjadi di berbagai kota, dengan massa demonstran dilaporkan merusak dan membakar sejumlah gedung pemerintah serta fasilitas publik, termasuk masjid di beberapa wilayah.
Dikutip dari Al Jazeera, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan pihak berwenang memiliki rekaman suara dari luar negeri yang berisi perintah dan seruan kepada para pengunjuk rasa.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah, ribuan warga turun ke jalan dalam aksi unjuk rasa pro-pemerintah di berbagai kota, termasuk Teheran. Presiden Masoud Pezeshkian dan sejumlah pejabat tinggi negara terlihat ikut serta dalam demonstrasi tersebut.
Di tengah gejolak ini, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan bahwa Republik Islam tidak akan mundur. Dalam pidatonya di Provinsi Qom pada 9 Januari lalu, Khamenei menuding Amerika Serikat sebagai dalang utama di balik kerusuhan.
“Mereka memulai konflik ini. Amerika Serikat yang memulainya. Musuh yang bergantung pada AS yang memulai ini. Mengapa mereka memulai ini? Mengapa AS begitu marah terhadap Iran? Alasannya jelas, karena kekayaan negara ini,” kata Khamenei.
Ia menambahkan bahwa praktik serupa juga dilakukan AS di kawasan lain. “Anda dapat melihat bagaimana mereka mengepung sebuah negara di Amerika Latin dan secara terbuka mengatakan itu semua demi minyak. Di sini juga demikian, demi minyak Iran, tambang Iran, dan pertanian Iran,” ujarnya.
Pernyataan tersebut semakin menegaskan tudingan Teheran bahwa gelombang demonstrasi didorong oleh kepentingan asing, khususnya Amerika Serikat, untuk menguasai sumber daya alam Iran. Sementara itu, aksi protes masih berlanjut di berbagai provinsi, dengan risiko eskalasi lebih lanjut di tengah ancaman intervensi militer dari Washington.
Pemerintah Iran menegaskan situasi telah terkendali, meski pembatasan komunikasi masih diberlakukan dan laporan independen menunjukkan ketegangan tetap tinggi. Perkembangan ini menjadi sorotan dunia, terutama setelah serangkaian konflik regional sebelumnya yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.