JAKARTA — Iran dilaporkan semakin menonjol dalam persaingan propaganda digital berbasis kecerdasan buatan (AI), bahkan disebut mampu melampaui efektivitas narasi yang dibangun Amerika Serikat di ruang media sosial global.
Laporan terbaru menyebutkan, strategi komunikasi yang dijalankan kelompok pendukung Teheran kini jauh lebih canggih dibanding pola propaganda tradisional di kawasan Timur Tengah pada masa lalu. Jika sebelumnya pesan-pesan politik kerap dinilai kaku dan kurang meyakinkan, kini Iran disebut memanfaatkan AI untuk memproduksi konten yang lebih kreatif, tajam, satir, dan mudah viral.
Perubahan itu dinilai mencerminkan pergeseran besar dalam lanskap perang informasi modern, ketika teknologi menjadi senjata utama untuk memengaruhi opini publik lintas negara.
Pada era konflik konvensional, propaganda dari negara-negara Timur Tengah sering dipandang tidak efektif. Salah satu contoh paling dikenal terjadi saat Perang Irak 2003, ketika Menteri Informasi Irak kala itu, Muhammad Saeed al-Sahaf, mengeluarkan pernyataan yang bertolak belakang dengan kondisi nyata di lapangan.
Pernyataan tersebut justru menjadi simbol kegagalan propaganda karena merusak kredibilitas pemerintah Irak di mata publik internasional.
Namun situasi berbeda terlihat dalam konflik yang kini melibatkan Iran. Dengan bantuan AI, narasi propaganda disebut diproduksi dalam format yang lebih modern dan menyesuaikan pola konsumsi konten digital masa kini.
Tim yang mendukung kepemimpinan Iran dilaporkan secara rutin menyebarkan video satir yang menyasar Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Selain itu, sejumlah konten lain juga menampilkan pesan-pesan yang mengangkat pihak-pihak yang berseberangan dengan Washington.
Peneliti dari Institute for Strategic Dialogue, Joseph Bodner dan Krysia Sikora, menyebut capaian propaganda digital pro-Iran sangat signifikan.
“M sedikitnya dua jaringan pro-Iran meraih lebih dari satu miliar penayangan di platform X pada bulan pertama konflik,” tulis keduanya dalam laporan tersebut.
Angka itu menunjukkan bagaimana strategi digital yang terorganisasi mampu menjangkau audiens global dalam waktu singkat.
Konten yang beredar disebut tidak hanya berupa video biasa, tetapi juga materi visual hasil AI yang sarat simbol politik, humor satir, serta pesan emosional yang dirancang untuk menarik perhatian pengguna internet, terutama generasi muda yang aktif di media sosial.
Para analis menilai keberhasilan relatif Iran menunjukkan dominasi tradisional Barat dalam industri hiburan dan komunikasi tidak lagi otomatis menjadi keunggulan dalam perang persepsi.
“Teknologi telah mengubah arena persaingan. Siapa pun yang mampu menciptakan narasi paling menarik dan cepat menyebar, berpotensi memenangkan perhatian publik,” ungkap salah satu pengamat komunikasi global.
Fenomena ini juga memicu kekhawatiran baru di kalangan internasional. Penggunaan AI sebagai alat propaganda dinilai berisiko besar karena dapat memproduksi informasi bias, manipulatif, bahkan menyesatkan dalam skala masif.
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, persaingan penggunaan AI untuk membentuk opini publik diperkirakan akan menjadi salah satu medan konflik utama di masa depan.
Perang modern, menurut para pengamat, kini tidak lagi hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga di layar ponsel dan platform media sosial.