JAKARTA – Pada 18 Juni 1959, Jalur Gaza menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian perjalanan diplomatik Ernesto “Che” Guevara. Tokoh revolusioner asal Argentina yang menjadi simbol Revolusi Kuba itu mengunjungi wilayah tersebut dalam sebuah lawatan yang berkaitan dengan misi luar negeri awal pemerintah Kuba pasca-revolusi. Kunjungan ini tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan politik, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam dalam konteks sejarah Palestina dan hubungan internasional pada masa Perang Dingin.
Saat itu, Gaza berada di bawah administrasi Mesir setelah Perang Arab-Israel 1948. Wilayah ini dipenuhi oleh kamp-kamp pengungsi Palestina yang hidup dalam kondisi serba terbatas. Situasi sosial-politik inilah yang menjadi latar belakang penting bagi kedatangan Che Guevara, yang dalam berbagai catatan sejarah sedang melakukan perjalanan ke sejumlah negara Asia dan Afrika sebagai bagian dari upaya membangun hubungan solidaritas dunia ketiga pascarevolusi Kuba.
Kunjungan Che Guevara ke Gaza berlangsung singkat, namun penuh simbolisme. Ia datang sebagai bagian dari delegasi pemerintah Kuba dan disambut oleh pejabat lokal serta perwakilan pemerintahan Mesir yang saat itu mengelola wilayah Gaza. Dalam kunjungan tersebut, Che juga diketahui mengunjungi beberapa kamp pengungsi Palestina. Di sana, ia menyaksikan langsung kondisi kehidupan para pengungsi yang terdampak konflik berkepanjangan di kawasan tersebut.
Menurut sejumlah catatan sejarah, momen tersebut meninggalkan kesan kuat bagi Che Guevara. Ia dikenal sebagai tokoh yang sangat menentang kolonialisme dan imperialisme, sehingga situasi di Gaza kala itu sejalan dengan pandangan ideologis yang ia perjuangkan. Kunjungan ini kemudian sering dipandang sebagai salah satu titik awal meningkatnya perhatian internasional terhadap persoalan Palestina di luar kawasan Timur Tengah.
Selain aspek kemanusiaan, kunjungan ini juga memiliki dimensi geopolitik yang penting. Pada akhir 1950-an, dunia tengah berada dalam ketegangan Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur. Di tengah situasi tersebut, negara-negara baru merdeka di Asia dan Afrika mulai membentuk solidaritas politik yang dikenal sebagai Gerakan Non-Blok.
Kuba, di bawah kepemimpinan Fidel Castro, berusaha memainkan peran aktif dalam kelompok ini. Che Guevara, sebagai salah satu tokoh utama revolusi Kuba, dikirim untuk memperluas hubungan diplomatik dengan negara-negara di luar pengaruh Amerika Serikat.
Gaza, dalam konteks itu, menjadi salah satu simbol penting perjuangan dunia Arab. Kehadiran Che Guevara di wilayah tersebut memperkuat narasi solidaritas antara gerakan revolusioner di Amerika Latin dengan perjuangan kemerdekaan di Timur Tengah. Meskipun tidak menghasilkan kebijakan langsung atau perjanjian besar, kunjungan ini sering dianggap sebagai bagian dari diplomasi ideologis yang lebih luas.
Beberapa sumber sejarah modern juga mencatat bahwa kunjungan Che ke Gaza kemudian menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Palestina. Sosoknya dipandang sebagai simbol dukungan internasional terhadap perjuangan anti-kolonial. Bahkan, dalam beberapa dekade setelahnya, nama “Che” kerap digunakan sebagai simbol perlawanan di berbagai gerakan politik di wilayah tersebut.
Namun demikian, penting untuk dicatat bahwa kunjungan ini berlangsung dalam konteks politik yang kompleks. Gaza saat itu bukan entitas politik independen, melainkan wilayah administrasi di bawah Mesir, sementara konflik Israel-Palestina masih berada dalam fase awal yang terus berkembang. Oleh karena itu, interpretasi terhadap kunjungan Che Guevara sering berbeda-beda tergantung pada sudut pandang politik dan sejarah yang digunakan.
Meski singkat, perjalanan Che Guevara ke Gaza pada 18 Juni 1959 tetap menjadi salah satu peristiwa menarik dalam sejarah hubungan internasional abad ke-20. Ia mencerminkan bagaimana tokoh revolusioner dari satu belahan dunia dapat terhubung dengan konflik dan perjuangan di wilayah lain, sekaligus menunjukkan betapa kuatnya arus solidaritas global pada era tersebut.