JAKARTA – Timnas Jepang sempat menghadapi situasi tak terduga menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026 setelah mengeluhkan kondisi lapangan latihan yang disediakan di Monterrey, Meksiko.
Kedatangan Samurai Blue ke kota tersebut awalnya ditujukan untuk mematangkan strategi dan kebugaran pemain sebelum turnamen terbesar sepak bola dunia dimulai.
Namun, fokus persiapan mereka mendadak terganggu setelah rombongan Jepang menemukan sejumlah masalah pada fasilitas latihan yang dianggap belum memenuhi standar internasional.
Permukaan lapangan yang tidak rata, rumput yang mengalami kerusakan di beberapa area, serta potensi risiko cedera bagi pemain menjadi perhatian utama tim pelatih dan manajemen.
Situasi tersebut membuat delegasi Jepang melakukan evaluasi serius terkait kelanjutan agenda latihan mereka di Monterrey.
Sempat Muncul Wacana Tinggalkan Monterrey
Menurut sejumlah laporan, ketidakpuasan terhadap kualitas lapangan memunculkan opsi untuk meninggalkan Monterrey lebih cepat dari jadwal yang telah ditetapkan.
Langkah tersebut dipertimbangkan sebagai upaya melindungi kondisi fisik para pemain inti yang diproyeksikan menjadi tulang punggung Jepang selama turnamen.
Bagi tim yang menargetkan pencapaian besar di Piala Dunia 2026, risiko cedera saat sesi latihan dinilai sebagai ancaman yang tidak perlu terjadi.
“Keselamatan pemain dan kualitas persiapan menjadi prioritas utama menjelang turnamen sebesar Piala Dunia,” ungkap tim seperti dikutip dari Futguru, Kamis (11/6/2026)
Kekhawatiran tersebut kemudian menjadi sorotan media internasional karena melibatkan salah satu peserta kuat dari Asia yang tengah mempersiapkan diri menghadapi kompetisi bergengsi dunia.
Monterrey Rayados Beri Solusi Cepat
Ketegangan akhirnya mereda setelah klub Monterrey Rayados menawarkan penggunaan fasilitas latihan El Barrial yang dikenal sebagai salah satu kompleks sepak bola terbaik di Meksiko.
Keputusan tersebut langsung disambut positif oleh kubu Jepang karena memberikan lingkungan latihan yang lebih profesional dan aman.
Pelatih Hajime Moriyasu bersama para pemain akhirnya dapat kembali fokus pada persiapan teknis tanpa dibayangi kekhawatiran terhadap kondisi lapangan.
Sebelum mendapatkan akses ke El Barrial, Jepang sempat menjalani latihan sementara di lapangan milik Fakultas Kedokteran UANL.
Meski mampu beradaptasi dengan cepat, insiden tersebut tetap memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan fasilitas pendukung di salah satu kota tuan rumah Piala Dunia 2026.
Pindah ke Nashville, Tetapi Akan Kembali ke Monterrey
Setelah persoalan terselesaikan, Jepang melanjutkan agenda persiapan mereka dari Nashville, Tennessee, Amerika Serikat.
Meski demikian, hubungan Jepang dengan Monterrey belum berakhir karena mereka dijadwalkan kembali ke kota tersebut untuk menjalani laga penting fase grup.
Pertandingan melawan Tunisia pada 20 Juni di Estadio Monterrey diprediksi menjadi salah satu momen bersejarah dalam turnamen.
Laga Grup F tersebut diperkirakan akan tercatat sebagai pertandingan ke-1.000 sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia FIFA.
Catatan tersebut menjadikan duel Jepang kontra Tunisia bukan sekadar pertandingan penyisihan grup biasa, melainkan bagian dari tonggak penting perjalanan sepak bola dunia.
Kontroversi yang Berujung Sejarah
Apa yang awalnya dimulai dari polemik kondisi lapangan latihan kini berpotensi berubah menjadi kisah bersejarah bagi Jepang di Piala Dunia 2026.
Di tengah sorotan terhadap fasilitas dan kesiapan penyelenggaraan, Samurai Blue kini memiliki kesempatan menjadi bagian dari pertandingan yang akan dikenang dalam sejarah FIFA.
Jika mampu memanfaatkan momentum tersebut, Jepang tidak hanya berpeluang mencatat prestasi di lapangan, tetapi juga menjadi saksi salah satu babak paling ikonik dalam perjalanan Piala Dunia.***