JAKARTA – Kemarau panjang mulai memicu dampak di sejumlah daerah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di tiga provinsi dengan total sekitar 138 hektare lahan terbakar, sementara 200 kepala keluarga (KK) di Kepulauan Riau (Kepri) mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Data tersebut merupakan hasil pemantauan BNPB pada Rabu (23/9/2026) hingga Kamis (24/9/2026) pukul 07.00 WIB. Karhutla dilaporkan terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Timur, dan Sulawesi Utara.
Kebakaran dengan area terdampak paling luas terjadi di kawasan Bukit Stampol, Desa Bukit Stampol, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, NTB. Api mulai terdeteksi pada Selasa (22/9/2026) sore dan menghanguskan sekitar 127 hektare lahan.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah puncak musim kemarau. Masyarakat diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana yang berkaitan dengan kondisi kering.
“Masyarakat kami imbau untuk tetap meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi kering selama musim kemarau ini,” ujar Berton dalam keterangannya.
Karhutla di Tiga Provinsi
Di Lombok Utara, proses pemadaman dilakukan secara bersama-sama oleh BPBD Provinsi NTB, BPBD Kabupaten Lombok Utara, dan pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).
Meski area yang terbakar mencapai 127 hektare, BNPB menyebut tidak ada laporan korban jiwa maupun warga yang harus mengungsi akibat kebakaran tersebut.
Karhutla juga terjadi di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, pada Rabu (23/9/2026). Api membakar lahan bambu di Desa Pagergunung dan kawasan hutan di Desa Sukoanyar, Kecamatan Kesamben.
Hasil asesmen BPBD Kabupaten Blitar menunjukkan luas lahan yang terbakar sekitar enam hektare. Tim gabungan yang melibatkan BPBD, TNI, Polri, dan masyarakat kemudian melakukan pemadaman untuk menghentikan penyebaran api.
Salah satu metode yang digunakan adalah teknik gepyok, yakni memukul titik api secara manual untuk memutus jalur rambatan kebakaran. Penanganan tersebut membuat kondisi di lokasi dapat dikendalikan pada Rabu malam.
Kebakaran lainnya terjadi di Desa Sawangan, Kecamatan Tombulu, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Sekitar lima hektare lahan terbakar dalam kejadian tersebut.
BPBD Kabupaten Minahasa langsung melakukan penanganan sehingga api tidak sampai merambat ke permukiman warga. Sementara penyebab munculnya titik api masih dalam penyelidikan pihak berwenang.
200 KK di Kepri Kesulitan Air Bersih
Selain karhutla, dampak musim kemarau juga dirasakan masyarakat di Kepulauan Riau. Sebanyak 200 KK di Kampung Dompak Lama, Kelurahan Dompak, Kecamatan Bukit Bestari, mengalami kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
BPBD Provinsi Kepulauan Riau telah menyalurkan bantuan air bersih guna memenuhi kebutuhan warga yang terdampak. Sebanyak 10 ton air didistribusikan menggunakan truk tangki.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari dampak kemarau yang tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran lahan, tetapi juga menekan ketersediaan sumber air bagi masyarakat.
BNPB meminta masyarakat mulai menghemat penggunaan air dan menyiapkan cadangan air bersih selama pasokan masih tersedia.
Warga Diminta Waspadai Titik Api
BNPB juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran selama kondisi lahan kering. Salah satunya dengan tidak membersihkan lahan menggunakan metode pembakaran.
Masyarakat juga diminta tidak membuang sampah sembarangan, terutama di area terbuka yang mudah terbakar.
“Jangan membuang puntung rokok sembarangan, dan pastikan bara api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi pembakaran,” tegas Berton.
Selain ancaman bencana hidrometeorologi kering, BNPB mengingatkan masyarakat tetap mewaspadai potensi bencana geologi seperti gempa bumi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Masyarakat diminta memastikan informasi kebencanaan yang diterima berasal dari sumber resmi. Pemantauan dapat dilakukan melalui kanal informasi BNPB, BPBD, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).