Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, sepanjang Agustus hingga September 2026 telah melahap lebih dari 1.120 hektare vegetasi. Luas area terdampak diproyeksikan masih bisa bertambah, sementara penyebab pasti amukan si jago merah hingga kini masih misterius.
Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) Kehutanan telah menerjunkan tim khusus untuk mengusut potensi tindak pidana di balik karhutla ini. Namun, proses penyelidikan di lapangan menghadapi tantangan berat.
Kepala Balai Gakkum Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabalnusra), Aswin Bangun, membeberkan bahwa medan yang sangat luas menjadi kendala utama penyidik dalam mengidentifikasi titik awal api maupun melacak terduga pelaku.
“Areanya sangat luas dan akses pintu masuknya banyak sekali. Itu faktor kendala utama kami di lapangan,” terang Aswin saat memberikan konfirmasi, Selasa (22/9/2026).
Sebaran kobaran api dilaporkan meluas ke sejumlah titik ikonik, mulai dari Bukit Teletubbies, Blok Pengol, Kawasan 360, Pos Jemplang, hingga Lembah Wetangan. Maraknya titik api tersebut sempat memaksa otoritas setempat menutup total seluruh akses pintu masuk kawasan wisata Bromo demi keselamatan publik.
Gandeng Pakar Senior, Dugaan Kuat Ulah Manusia
Meskipun tim penyelidik telah menyisir area Bromo selama kurang lebih tiga pekan, identitas maupun keberadaan terduga pelaku pembakaran masih belum terendus. Penyidik sejauh ini baru mengantongi beberapa petunjuk awal di lokasi kejadian.
Guna memperkuat pembuktian hukum, Gakkum Kehutanan menggandeng pakar kebakaran hutan Bambang Hero Saharjo serta ahli kerusakan lingkungan Basuki Wasis. Pendekatan serupa juga diterapkan pada kasus karhutla di kawasan sekitar, seperti Pegunungan Ijen dan Gunung Arjuno.
“Berdasarkan analisis para ahli, faktor aktivitas manusia memegang pengaruh sangat besar di balik fenomena ini. Namun untuk wilayah Arjuno, ada faktor lain yang masih terus kami dalami,” lanjut Aswin.
Tragedi karhutla di kawasan TNBTS seolah menjadi siklus tahunan yang berulang setiap kali musim kemarau mengeringkan vegetasi. Bencana ini tidak hanya merusak tutupan hijau dan mengancam fungsi ekologis kawasan konservasi, tetapi juga memukul sektor pariwisata serta perekonomian masyarakat lokal yang bergantung pada pesona Bromo.