TANGERANG – Kementerian Perdagangan (Kemendag) memanfaatkan Paviliun S’RASA dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 untuk memperkenalkan kekayaan pangan, bumbu, dan rempah Nusantara kepada pasar internasional.
Promosi tersebut dikemas melalui demonstrasi memasak yang memperlihatkan pemanfaatan produk lokal dalam berbagai hidangan, sekaligus membuka peluang kerja sama perdagangan dan memperluas akses ekspor Indonesia.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan promosi kuliner menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan pengenalan produk Indonesia di pasar global.
“Melalui S’RASA, kami ingin membawa kekayaan kuliner Indonesia lebih dekat kepada dunia internasional,” ujarnya, Minggu 18 Oktober 2026.
“Setiap hidangan memiliki cerita yang memperlihatkan potensi produk pangan, bumbu, serta rempah Indonesia.”
Menurut Budi, pengenalan produk melalui makanan dapat membantu calon mitra internasional memahami potensi komoditas Indonesia sekaligus mendorong peluang ekspor.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi menilai demonstrasi memasak memberikan pengalaman langsung kepada pengunjung untuk mengenali karakteristik, manfaat, dan penggunaan produk Indonesia.
“Melalui S’RASA, kami ingin menunjukkan bahwa produk Indonesia dapat menjadi bagian dari beragam kreasi kuliner,” ucapnya.
“Ketika pengunjung melihat langsung bagaimana suatu produk digunakan, mereka dapat lebih memahami manfaat, karakteristik, dan potensinya.”
Chef Sisca Perkenalkan Produk Lokal
Pada hari ketiga TEI 2026, Jumat, 16 Oktober 2026, Paviliun S’RASA menghadirkan dua sesi demonstrasi memasak dengan menampilkan kontestan MasterChef Indonesia musim keenam, Sisca Christo Tjahjanto.
Dalam sesi pertama, Chef Sisca berkolaborasi dengan Pembina Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendag, Danti Budi Santoso, untuk mengolah beef teriyaki dan kue lupis menggunakan gula aren Mahorahora.
Sesi berikutnya menghadirkan Chef Sisca bersama Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri, Kamapradipta Isnomo, yang menyajikan gado-gado dan sate ayam dengan bumbu masak Enak Eco.
Kedua sesi tersebut memperlihatkan bagaimana produk pangan Indonesia dapat digunakan dalam beragam kreasi masakan, baik bercita rasa lokal maupun yang terinspirasi kuliner internasional.
Gula Aren Sukabumi Bersiap Menembus Pasar Ekspor
Salah satu produk yang diperkenalkan melalui kegiatan tersebut adalah gula aren organik Mahorahora, produsen asal Sukabumi, Jawa Barat, yang menggunakan 100 persen nira aren pilihan.
Mahorahora telah menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan mitra dari Belanda sebagai bagian dari upaya memperluas jaringan bisnis internasional.
Perusahaan tersebut juga dijadwalkan melepas ekspor produk gula aren ke Malaysia pada November 2026, yang diharapkan membuka akses pasar baru bagi komoditas Indonesia.
Rencana ekspor ini menjadi salah satu contoh bagaimana promosi produk melalui kegiatan perdagangan dapat dihubungkan dengan peluang bisnis di luar negeri.
Kuliner Jadi Sarana Diplomasi Budaya Indonesia
Kamapradipta Isnomo menilai kuliner dapat menjadi instrumen diplomasi budaya karena makanan mampu memperkenalkan identitas dan kekayaan tradisi Indonesia kepada masyarakat internasional.
“Gado-gado dan sate ayam membuktika cita rasa Indonesia dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan budaya kita kepada dunia,” ujarnya.
“Jika dilakukan secara konsisten, promosi kuliner juga dapat memperluas perhatian terhadap produk Indonesia.”
Melalui Paviliun S’RASA, Kemendag menggabungkan promosi kuliner, pengenalan produk pangan, dan diplomasi budaya untuk memperkuat daya tarik komoditas nasional di pasar global.
Upaya tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan pengenalan terhadap makanan Indonesia, tetapi juga mendorong produk pangan, bumbu, dan rempah lokal memperoleh peluang ekspor yang lebih luas.***