JAKARTA – Dalam perayaan Iduladha 2025, Ghufron Mubin selaku Khatib Shalat Ied di Kantor Pusat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyuarakan pentingnya menumbuhkan empati sosial sebagai manifestasi makna kurban.
Melalui refleksi kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, ia mengajak umat Islam untuk menjadikan momen Iduladha sebagai sarana memperkuat rasa peduli antarumat.
Menurutnya, hakikat kurban bukan sekadar ritual, melainkan pengamalan nyata nilai empati kepada siapa saja, tanpa sekat perbedaan.
Ghufron menegaskan bahwa keutamaan hari raya kurban terletak pada kemampuan umat dalam mencintai sesama, sebagaimana cinta kepada Sang Khalik.
Ibadah kurban menjadi kesempatan untuk melawan bisikan egoisme dan kekhawatiran yang kerap dibisikkan setan.
“Jadi memang Iduladha ini memberikan pelajaran bagaimana mempunyai rasa empati kepada saudara-saudara kita yang lain tanpa terkecuali,” katanya usai memimpin Shalat Ied di Jakarta, Jumat (6/6/2025).
Ia menambahkan, nilai-nilai kurban sejatinya bukan hanya mencerminkan ketakwaan spiritual, tetapi juga kecerdasan sosial yang tinggi.
Bahkan menurutnya, seseorang yang belum berhaji bisa mendapatkan ganjaran besar dari Allah SWT jika memilih untuk berbagi dengan tulus.
“Kecerdasan spiritual tidak akan terasah jika tidak diimbangi dengan kecerdasan sosial. Ada orang yang tidak melaksanakan ibadah haji, tetapi Allah memberikan pahala yang besar karena dia mengutamakan berbagi kepada saudara sesamanya,” tuturnya.
Niat dan Ketulusan
Menurut Ghufron, ibadah kurban adalah bentuk konkret dari cinta yang tidak hanya diwujudkan dalam bentuk daging semata, tetapi juga dalam niat dan ketulusan membantu sesama.
“Kita ini akan selalu dibuat merasa khawatir akan keadaan itu oleh setan, sehingga butuh keimanan yang kuat.”
“Maka, ketika iman itu kuat, tidak ada alasan bagi kita untuk menumbuhkan rasa cinta itu kepada sesama dengan apapun yang bisa kita perbuat,” ujarnya menegaskan.
Dalam semangat berbagi itu, PBNU bersama NU Online Super App serta LAZISNU juga meluncurkan layanan kurban ramah lingkungan yang memperhatikan aspek kesehatan masyarakat dan keberlanjutan alam.
Salah satu langkah nyatanya adalah mengganti kemasan plastik pembungkus daging kurban dengan besek dan daun pisang yang alami dan mudah terurai.
Inisiatif tersebut tak hanya mencerminkan cinta pada sesama, tapi juga pada bumi.
Penggunaan bahan tradisional seperti besek dan daun pisang dinilai lebih aman bagi kesehatan karena tidak mengandung zat kimia berbahaya, sekaligus mempercepat proses penguraian sampah sehingga tidak mencemari lingkungan.***