Korban tewas akibat bencana banjir bandang dahsyat yang menerjang kawasan perbatasan Himalaya di Nepal melonjak drastis hingga menyentuh angka 547 jiwa. Air bah yang terjadi sejak Rabu lalu melumpuhkan wilayah perbatasan dan merusak berbagai fasilitas publik.
Pemerintah China mengonfirmasi bahwa operasi pencarian dan pertolongan (SAR) di area terdampak kini telah memasuki “fase sangat kritis”. Kekhawatiran terbesar berpusat pada sebuah danau buatan hasil sumbatan material longsor yang berada dalam kondisi darurat dan terancam meluap sewaktu-waktu.
Ratusan Warga Asing Selamat, Ratusan Lainnya Masih Misteri
Otoritas Nepal melaporkan bahwa tim penyelamat telah berhasil menderek dan mengevakuasi lebih dari 100 warga negara asing ke tempat aman. Meski demikian, kekhawatiran masih menyelimuti proses evakuasi mengingat lebih dari 500 orang sebelumnya dinyatakan hilang kontak.
Sementara itu dari wilayah Tibet, media pemerintah China mengonfirmasi 5 orang tewas dan lebih dari 558 orang masih hilang. Pihak berwenang masih terus memverifikasi apakah angka korban di Tibet saling tumpang-tindih dengan data resmi dari Nepal.
Kepanikan dan tangis keputusasaan kini melanda keluarga korban di berbagai negara. Salah seorang pria asal Inggris melayangkan seruan haru kepada otoritas lokal untuk menemukan adiknya yang hilang di area bencana:
“Tolong bantu kami menemukan adik saya,” ungkapnya penuh harap.
Dipicu Runtuhnya Glaster, Akses Perbatasan Utama Lumpuh
Pejabat lokal mengonfirmasi kepada BBC bahwa banjir bandang dahsyat ini terpicu oleh runtuhnya hamparan es (glaster) di area pegunungan. Gelombang air bah berkecepatan tinggi tersebut menyapu bersih permukiman warga, merusak jaringan jalan raya, serta menghancurkan pos pemeriksaan dan jalur perbatasan vital yang menghubungkan Nepal dan Tibet.
Tim SAR gabungan lintas negara saat ini terus berpacu dengan waktu di tengah ancaman bahaya banjir susulan.



