Tim penyelamat bertarung dengan waktu menyisir puing-puing bangunan demi menemukan penyintas pascabencana banjir bandang dahsyat yang menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet. Hantaman air bah ini merusak permukiman warga, melumpuhkan akses jalan, serta menyapu bersih jembatan-jembatan penghubung antarwilayah.
Berdasarkan analisis Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), petaka ini dipicu oleh runtuhnya runtuhan es (glacial collapse) yang mengalirkan endapan material dan batuan dalam jumlah masif.
Hingga saat ini, skala dampak bencana di wilayah Nepal mencatatkan angka yang sangat memprihatinkan: sedikitnya 359 orang dikonfirmasi tewas dan lebih dari 900 orang dilaporkan hilang.
Ratusan Warga Asing dan Petugas Keamanan Turut Hilang
Dampak bencana melintasi perbatasan negara. Di wilayah Tibet (China), sedikitnya 558 orang dilaporkan hilang dan 3 jiwa dikonfirmasi tewas, meski otoritas masih memverifikasi kemungkinan adanya tumpang-tindih data korban dengan wilayah Nepal.
Bencana ini juga memicu kecemasan internasional setelah ratusan warga negara asing dilaporkan hilang kontak:
-
Korban Turis Asing (Data Nepal): 178 wisatawan asal India, 65 warga negara Amerika Serikat, dan 33 warga Inggris.
-
Petugas Militer & Kepolisian: Puluhan personel militer dan kepolisian yang diterjunkan ke lokasi juga dilaporkan hilang saat menjalankan tugas.
Keluarga korban dari berbagai belahan dunia kini berada dalam kecemasan mendalam. Dua bersaudara asal Texas, AS, menyampaikan pesan haru saat menunggu kabar orang tua mereka yang sedang melakukan ziarah ke Tibet. Di Inggris, seorang pria asal Sussex meluapkan kekhawatirannya setelah kehilangan kontak dengan istri, ibu, paman, dan saudaranya yang diduga menjadi korban di Nepal.
Peringatan Darurat: Potensi Banjir Susulan dari Danau Buatan
Di tengah proses evakuasi yang berisiko tinggi, Otoritas Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nasional Nepal (NDRRMA) mengeluarkan peringatan bahaya tingkat tinggi terkait potensi banjir susulan di sepanjang aliran Sungai Bhote Koshi.
Pantauan data satelit dari pemerintah China menunjukkan bahwa timbunan material banjir telah menyumbat aliran sungai di kawasan perbatasan dan membentuk bendungan alami berupa danau raksasa.
“Data satelit mengindikasikan volume air di danau buatan tersebut terus melonjak dan berisiko tinggi untuk jebol sewaktu-waktu. Kami meminta warga serta tim penyelamat di area hilir untuk ekstra waspada dan segera menyingkir ke lokasi yang lebih tinggi,” imbau pernyataan resmi NDRRMA.



