JAKARTA – Jumlah korban meninggal akibat banjir dan longsor besar yang melanda Sumatra terus meningkat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan 971 orang telah meninggal dunia, sementara ratusan lainnya masih hilang dalam bencana yang disebut sebagai salah satu yang paling mematikan dalam satu dekade terakhir.
Dalam laporan resminya, BNPB menyebut 255 jiwa masih dinyatakan hilang dan upaya pencarian terus dilakukan di sejumlah titik yang tertutup lumpur tebal serta akses jalan yang terputus. “Terluka 5 ribu jiwa,” demikian pembaruan BNPB, merujuk pada ribuan warga yang mengalami cedera serius akibat banjir bandang dan longsor yang dipicu hujan ekstrem sejak awal musim penghujan.
Selain korban jiwa, kerusakan masif terjadi di wilayah terdampak yang tersebar di 52 kabupaten di Sumatra. BNPB mencatat 157.900 rumah rusak, memaksa ratusan ribu warga mengungsi. Infrastruktur publik seperti jalan, drainase, dan fasilitas layanan umum juga mengalami kerusakan berat.
“Fasilitas umum 1,2 ribu rusak,” ujar BNPB dalam laporan tertulis. Kerusakan tersebut mencakup jalan raya, jembatan, dan sarana vital lain yang menghambat proses evakuasi dan distribusi bantuan. Data BNPB juga menyebut 434 rumah ibadah, 219 fasilitas kesehatan, dan 581 fasilitas pendidikan mengalami kerusakan.
Kondisi diperburuk dengan 290 gedung pemerintahan dan swasta yang rusak, serta 498 jembatan putus, mengisolasi banyak wilayah dan mempersulit tim penyelamat menjangkau lokasi terdampak.
Pemerintah pusat telah menurunkan tim SAR gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, serta relawan untuk mempercepat pencarian korban dan membuka akses jalan yang terputus. Distribusi kebutuhan mendesak, mulai dari makanan, obat-obatan hingga tenda darurat, terus dikerahkan ke wilayah terparah.
BNPB mengimbau masyarakat tetap waspada mengingat cuaca ekstrem diperkirakan masih berlangsung hingga akhir tahun. “Kami terus memantau situasi dan memperbarui data untuk memastikan penanganan cepat,” kata juru bicara BNPB dalam keterangan pers terbaru.
Jumlah korban meninggal yang terus bertambah menjadi peringatan keras akan pentingnya pelestarian lingkungan dan mitigasi risiko di tengah intensitas cuaca ekstrem yang kian sering terjadi.



