HAVANA, CUBA – Krisis energi yang semakin parah di Kuba memicu perubahan besar pada pola transportasi masyarakat. Di tengah kelangkaan bahan bakar dan pemadaman listrik yang berlangsung berulang, becak listrik bertenaga surya kini menjelma sebagai moda transportasi utama yang menopang aktivitas warga sehari-hari.
Fenomena ini sekaligus menandai bergesernya ikon transportasi Kuba. Mobil-mobil klasik berbahan bakar bensin yang selama puluhan tahun memenuhi jalanan Havana dan menjadi simbol negara Karibia tersebut mulai tersisih oleh kendaraan roda tiga listrik yang lebih hemat energi dan mampu beroperasi tanpa bergantung sepenuhnya pada jaringan listrik nasional.
Inovasi sederhana berupa pemasangan panel surya di atap kendaraan menjadi solusi baru di tengah keterbatasan pasokan energi. Dengan memanfaatkan sinar matahari, baterai kendaraan dapat diisi ulang secara mandiri sehingga tetap dapat digunakan meski listrik padam selama berjam-jam.
Pemilik becak listrik, Liecer de la Cruz (40), mengaku kendaraan itu kini menjadi pilihan utama masyarakat untuk beraktivitas.
“Begitulah cara orang-orang bepergian sekarang,” ujar Liecer de la Cruz, dikutip dari AP, Sabtu (11/7/2026).
Menurutnya, penggunaan panel surya memberikan keuntungan besar karena kendaraan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan listrik pemerintah yang terus mengalami gangguan akibat krisis energi.
Dari Angkut Penumpang hingga Gantikan Jalur Bus
Peran becak listrik di Kuba tidak lagi terbatas sebagai kendaraan pribadi. Moda transportasi tersebut kini mengambil alih berbagai fungsi yang sebelumnya dilayani kendaraan bermesin konvensional.
Di sejumlah wilayah Havana, becak listrik digunakan untuk mengangkut penumpang, membawa barang dagangan, melayani trayek yang dahulu dioperasikan bus umum, hingga membantu pengangkutan sampah.
Harga kendaraan berkisar antara 2.000 hingga 4.000 dolar AS. Nilai tersebut tergolong tinggi bagi sebagian besar warga Kuba, namun banyak masyarakat tetap memilih berinvestasi karena biaya operasionalnya jauh lebih rendah dibanding kendaraan berbahan bakar bensin.
Sebagian warga bahkan rela menjual mobil lamanya untuk membeli becak listrik. Ada pula yang memperoleh kendaraan tersebut melalui bantuan keluarga yang tinggal di luar negeri maupun hasil usaha yang telah mereka kumpulkan selama bertahun-tahun.
Ancaman Tarif AS Perburuk Krisis Energi
Meningkatnya penggunaan becak listrik tidak dapat dipisahkan dari memburuknya kondisi energi Kuba.
Situasi menjadi semakin sulit setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menerapkan tarif terhadap negara-negara yang memasok minyak ke Kuba. Kebijakan tersebut berdampak pada menurunnya pasokan minyak yang masuk ke negara itu.
Kuba sendiri hanya mampu memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan bahan bakarnya melalui produksi domestik. Setelah ancaman kebijakan tersebut diumumkan, tercatat hanya satu kapal tanker minyak yang tiba di Kuba pada akhir Maret. Angka itu jauh lebih rendah dibanding rata-rata delapan kapal tanker yang biasanya datang setiap bulan.
Terbatasnya pasokan minyak memperparah pemadaman listrik bergilir yang telah berlangsung di berbagai wilayah. Krisis ekonomi yang membelit Kuba selama lima tahun terakhir ikut memperburuk keadaan dengan menyebabkan kelangkaan pangan, obat-obatan, hingga menurunnya kapasitas layanan transportasi publik.
Becak Listrik Jadi Tumpuan Mobilitas Warga
Di tengah minimnya pilihan transportasi, becak listrik menjadi penyelamat mobilitas masyarakat.
Meski kecepatan kendaraan relatif rendah dibanding mobil konvensional, masyarakat tetap mengandalkannya untuk berangkat bekerja, berbelanja, maupun mengangkut kebutuhan sehari-hari.
Pegawai toko di Havana, Berta Ferrer (52), mengatakan kendaraan tersebut praktis menjadi satu-satunya pilihan transportasi bagi banyak warga.
“Kalau mampu membayar, ya naik. Kalau tidak, Anda tidak bisa pergi ke mana-mana,” kata Berta Ferrer.
Ia mengungkapkan biaya sekali perjalanan sekitar 500 peso Kuba atau kurang dari 1 dolar AS. Nilai tersebut cukup membebani masyarakat karena rata-rata gaji pegawai sektor pemerintah di Kuba hanya sekitar 10 dolar AS per bulan, sedangkan pekerja sektor swasta memperoleh sekitar 40 dolar AS setiap bulan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun becak listrik menjadi solusi transportasi, biaya mobilitas tetap menjadi tantangan bagi sebagian besar warga.
Kendaraan China Dominasi, Panel Surya Jadi Investasi Baru
Mayoritas becak listrik yang beroperasi di Kuba berasal dari produsen China, seperti Zonsen dan Jinpeng. Kendaraan tersebut umumnya masuk melalui Panama, dibawa oleh keluarga warga Kuba yang tinggal di luar negeri maupun importir swasta.
Sementara itu, merek Vedca diproduksi melalui kerja sama manufaktur antara Kuba dan China. Kendaraan-kendaraan tersebut menggunakan baterai gel maupun lithium sebagai sumber tenaga utama.
Insinyur kendaraan listrik di Havana, Carlos Álvarez (29), menilai tren pemasangan panel surya terus meningkat seiring memburuknya krisis listrik nasional.
“Semakin banyak pemilik becak memasang panel surya agar kendaraan tetap bisa beroperasi saat listrik padam,” ujar Carlos Álvarez.
Menurutnya, biaya pemasangan panel surya sekitar 500 dolar AS memang tidak murah. Namun investasi tersebut dinilai cepat memberikan keuntungan karena mampu mengurangi ketergantungan terhadap jaringan listrik sekaligus memastikan kendaraan tetap dapat menghasilkan pendapatan setiap hari.
Transformasi transportasi di Kuba memperlihatkan bagaimana krisis energi mendorong masyarakat beradaptasi melalui teknologi sederhana. Di tengah keterbatasan bahan bakar dan listrik, becak listrik bertenaga surya kini bukan sekadar alat transportasi alternatif, melainkan menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat sekaligus simbol ketahanan warga menghadapi tekanan ekonomi yang berkepanjangan.