JAKARTA – Krisis di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran melancarkan serangan ke sejumlah negara Teluk menyusul gelombang serangan baru Amerika Serikat.
Yordania mengecam aksi tersebut sebagai serangan “brutal” yang menargetkan UEA, Bahrain, Oman, Kuwait, dan Qatar.
Dalam pernyataan di X yang dilansir The Guardian, Minggu (12/7/2026), Kementerian Luar Negeri Yordania menyebut serangan itu sebagai “eskalasi berbahaya” yang mengancam keamanan dan stabilitas kawasan, sekaligus “pelanggaran terang-terangan” terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara-negara yang terdampak.
Sebagai sekutu AS, Yordania menegaskan “solidaritas mutlak” dengan negara-negara Teluk. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang pangkalan AS di Yordania sebagai balasan atas serangan udara terbaru Washington terhadap target militer di Iran. Namun, otoritas Yordania belum mengonfirmasi klaim tersebut.
Serangan ini menambah ketegangan di kawasan Teluk Persia, yang sebelumnya sudah diguncang oleh penutupan Selat Hormuz dan serangan terhadap kapal dagang. Situasi semakin menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya konflik regional.