JAKARTA — Aktivitas perjalanan melalui jalan tol terus meningkat. Hingga kuartal III 2026, lebih dari 981 juta kendaraan tercatat melintasi jaringan jalan tol yang dikelola Jasa Marga. Rata-rata lalu lintas harian mencapai 3,6 juta kendaraan hingga akhir September.
Tingginya mobilitas tersebut berjalan beriringan dengan bertambahnya jaringan jalan tol yang beroperasi. Hingga September 2026, panjang jalan tol operasional mencapai 1.294 kilometer dari total konsesi sepanjang 1.736 kilometer.
Penambahan jaringan kembali terjadi pada Oktober 2026 setelah ruas Gending-Paiton sepanjang 24 kilometer di Jawa Timur mulai beroperasi secara berbayar. Ruas tersebut merupakan bagian dari proyek Tol Probolinggo-Banyuwangi.
Di sejumlah wilayah lain, pembangunan jalan tol juga masih berlangsung. Beberapa proyek yang tengah dikerjakan antara lain Jakarta-Cikampek II Selatan, Akses Patimban, Yogyakarta-Bawen, serta Solo-Yogyakarta-YIA Kulon Progo.
Meningkatnya jumlah kendaraan yang menggunakan jalan tol turut tercermin dari pendapatan usaha pengoperasian jalan tol. Berdasarkan laporan kinerja per 30 Oktober 2026, pendapatan Jasa Marga hingga kuartal III mencapai Rp15,6 triliun atau tumbuh 7,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kontribusi terbesar berasal dari pendapatan tarif tol sebesar Rp14,3 triliun, naik 6,8 persen secara tahunan. Adapun pendapatan dari usaha lainnya mencapai Rp1,3 triliun atau meningkat 21,5 persen.
Pendapatan usaha lainnya tersebut berasal dari berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pengoperasian, pemeliharaan, serta aktivitas usaha di sepanjang koridor jalan tol.
Sementara itu, laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk tercatat sebesar Rp2,7 triliun. EBITDA mencapai Rp10,5 triliun dengan margin 67 persen.
Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono mengatakan, kondisi keuangan perusahaan menjadi salah satu penopang keberlangsungan operasional dan investasi pengembangan jalan tol.
“Kinerja keuangan yang sehat menjadi fondasi bagi Jasa Marga untuk menjalankan strategi bisnis secara berkelanjutan,” kata Rivan.
Di tengah tingginya aktivitas kendaraan, pemantauan kondisi jalan dan kelancaran lalu lintas juga dilakukan melalui dukungan teknologi. Pemeriksaan kondisi perkerasan jalan menggunakan kendaraan Hawkeye 2000, sedangkan pemantauan kondisi lapangan dan pemeliharaan didukung sistem TROOPS dan JIMMS.
Pengawasan arus kendaraan dilakukan melalui pusat kendali lalu lintas yang terintegrasi dengan layanan pengaduan Call Center 133 dan aplikasi Travoy. Melalui fasilitas tersebut, kondisi perjalanan dapat dipantau dan laporan dari pengguna jalan dapat dihimpun.
Pengawasan kendaraan angkutan barang yang melebihi ketentuan dimensi dan muatan atau over dimension over loading (ODOL) juga menjadi bagian dari perhatian. Hal ini sejalan dengan rencana penerapan penegakan hukum terhadap pelanggaran ODOL pada 2027.
Salah satu perangkat yang digunakan adalah Weigh In Motion (WIM), yakni teknologi untuk mengukur berat kendaraan secara otomatis saat melintas. Data hasil pengukuran terhubung dengan sistem Bukti Lulus Uji Elektronik (BLUe) Kementerian Perhubungan dan Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) Korlantas Polri.
Selain pengawasan rutin, kesiapan menghadapi peningkatan mobilitas pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) juga mulai menjadi perhatian. Pemeriksaan kondisi jalan, pemetaan titik rawan kemacetan, kesiapan petugas, serta koordinasi dengan instansi terkait disiapkan untuk menghadapi periode tersebut.
Langkah ini dilakukan agar perjalanan masyarakat selama libur akhir tahun tetap lancar dan pelayanan jalan tol dapat memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Perbedaan pendekatan: Versi ini lebih berorientasi pada kepentingan pembaca, yakni pertumbuhan penggunaan jalan tol, penambahan ruas, dan kesiapan menghadapi lonjakan perjalanan. Nama Jasa Marga tidak terlalu mendominasi narasi sehingga kesan advertorial dan promosi perusahaan lebih berkurang.