Kasus pembunuhan sadis berencana yang dilakukan Dwi Bagus (40) terhadap istri sirinya, Dini Hardiyanti (30), serta balita tirinya yang baru berusia 4 tahun di Kota Madiun, menyisakan kengerian mendalam bagi para tetangga. Di balik dinding rumah yang terletak di Jalan Kunir, Kelurahan Ngegong, Kecamatan Manguharjo—yang juga ditinggali istri sah pelaku, Marta—tersimpan memori kelam yang perlahan mulai tersingkap.
Warga sekitar kini dihantui kesadaran baru bahwa aroma menyengat menyerupai daging panggang yang sempat mereka hirup beberapa waktu lalu, ternyata berasal dari tungku tempat pelaku membakar jenazah para korbannya untuk menghilangkan jejak kejahatan.
Aroma Misterius yang Sempat Dikira Makanan Panggang
Wati, salah satu tetangga yang tinggal di sekitar lokasi kejadian, mengaku bulu kuduknya merinding saat menyadari sumber asli dari bau tajam yang sempat singgah di penciumannya.
“Seperti aroma makanan enak, ayam bakar atau daging bakar gitu,” kenang Wati saat ditemui Detikcom di kediamannya, Kamis (29/10/2026).
Kesaksian serupa diutarakan oleh tetangga lainnya, Sri. Meskipun keduanya sudah lupa secara persis hari kejadian terciumnya aroma tersebut, ingatan mereka masih melekat pada bau aneh yang bertahan cukup lama.
“Lupa hari apa, pernah ada aroma menyengat olahan yang dibakar gitu. Saya mencium aromanya itu pagi, siang masih bau,” timpal Sri.
Anatomi Tungku Maut di Ujung Pekarangan Bonsai
Fakta mengerikan ini terkuak terang saat jajaran Polda Jatim menggelar prarekonstruksi di lokasi perkara. Tungku pembakaran yang digunakan pelaku untuk memusnahkan bukti jenazah ternyata dibangun secara mendadak usai pembunuhan terjadi.
Posisi tungku tersebut berada tepat di ujung paling selatan pekarangan belakang rumah—sebuah sudut yang dipenuhi koleksi tanaman bonsai yang dirawat pelaku sehari-hari.
Berdasarkan rekonstruksi, tungku darurat itu memiliki tinggi sekitar dua meter dengan dimensi 70 sentimeter kali 1 meter, dibangun dari bata ringan berlapis semen. Letaknya yang sangat mepet dengan dinding rumah warga membuat sisa-sisa kekejian itu masih kasat mata; mulai dari noda hitam bekas asap yang menempel di tembok tetangga, hingga deretan pohon pisang milik warga sekitar yang ikut terpanggang panasnya api hingga mengering.