Tim Aprilia berada dalam posisi serba dilematis menjelang Seri MotoGP Malaysia di Sirkuit Sepang akhir pekan ini. Di satu sisi, pabrikan asal Italia tersebut mengagumi jiwa petarung sang penantang gelar juara dunia, Jorge Martin, yang nekat kembali menunggangi motor hanya enam hari pascacelakaan hebat. Di sisi lain, Aprilia mewanti-wanti keras agar sang pembalap tidak mengambil risiko konyol yang bisa memperparah cederanya.
Martin resmi dinyatakan lolos tes medis (fit) untuk menguji kondisinya pada sesi Latihan Bebas 1 (FP1) Jumat pagi (30/10/2026), meskipun tulang pergelangan tangan kanannya retak akibat insiden berkecepatan tinggi di Phillip Island, Australia, pekan lalu.
Kecelakaan itu membuat posisi Martin tergeser oleh Marc Marquez di puncak klasemen sementara dengan selisih 10 poin. Mengingat cedera patah tulang radius tersebut umumnya membutuhkan waktu pemulihan 4 hingga 5 pekan, keputusan Martin untuk langsung mengaspal di Sepang dinilai sebagai aksi nekat sekaligus luar biasa.
Pujian Aprilia: “Dia Seorang Petarung Sejati”
Manajer Tim Aprilia, Paolo Bonora, tak mampu menyembunyikan rasa kagumnya atas mentalitas baja yang ditunjukkan oleh pembalapnya tersebut.
“Dia adalah seorang petarung sejati. Insiden itu baru terjadi enam hari lalu, jadi melihatnya berada di sini sungguh sesuatu yang spesial,” tutur Bonora kepada MotoGP.com.
“Dia memang sangat menderita dan situasinya tidak mudah. Namun, setidaknya dia dinyatakan fit, dan besok dia akan menguji langsung kondisinya di atas lintasan,” tambahnya.
Bonora menegaskan pihak tim sama sekali tidak memaksa Martin untuk memaksakan diri. Rencananya, Martin akan memanfaatkan potensi sesi basah di FP1 untuk berkendara secara halus (softly) tanpa memikul risiko tinggi, sebelum kembali menjalani evaluasi medis pascalatihan.
Cedera Lebih Baik dari Perkiraan Awal
Awalnya, tim medis mengkhawatirkan Martin mengalami patah dua tulang sekaligus dan harus segera diterbangkan kembali ke Eropa. Beruntung, hasil pemindaian lanjutan mengonfirmasi tidak ada kerusakan pada tulang ulna, sementara retakan pada tulang radius tergolong non-displaced (tulang tidak bergeser dari posisinya).
Perawatan intensif dan terapi fisik maraton yang dilakoni tim medis pribadi Martin selama berada di Kuala Lumpur berhasil mengembalikan kekuatan cengkeraman tangannya secara signifikan.
Kendati demikian, pragmatisme tetap menjadi pegangan utama Aprilia. Bonora mengingatkan bahwa ketahanan fisik Martin setelah melahap puluhan putaran masih menjadi tanda tanya besar.
“Kami selalu berkomunikasi dengannya setiap menit. Dia sangat fokus pada target untuk tetap berada di lintasan dan bertarung. Namun secara realistis, kami tahu dia harus menyimpan energinya, mungkin bukan cuma untuk Sepang, tapi demi sisa seri berikutnya,” jelas Bonora.
Pantang Nyerah, Tapi Dilarang Jatuh!
Risiko terbesar yang dihadapi Martin saat ini adalah potensi benturan ulang pada titik cedera yang sama jika ia kembali mengalami kecelakaan (crash).
Oleh karena itu, instruksi resmi dari manajemen Aprilia sangat tegas:
“Saran kami sangat jelas: jangan ambil risiko apa pun. Jika dia merasa memiliki kekuatan dan mampu menyelesaikan balapan secara aman, lakukanlah. Namun jika tidak, jangan dipaksakan,” tegas Bonora.
Situasi di klasemen kian krusial. Jika Marc Marquez berhasil menyapu bersih kemenangan di ajang Sprint dan Balapan Utama Sepang sementara Martin gagal memetik poin, margin keunggulan Bintang Ducati itu akan melesat menjadi 47 poin dengan hanya tiga seri tersisa.
“Perburuan gelar jelas menjadi lebih sulit dari sebelumnya, semua orang tahu itu. Tapi kami tidak akan pernah menyerah (never give up). Masih ada empat balapan tersisa termasuk Sepang, segalanya masih mungkin terjadi,” pungkas Bonora optimistis.