JAKARTA – Produksi kelautan dan perikanan Indonesia pada tahun 2025 mencatatkan capaian impresif dengan total 26,25 juta ton, menandai pertumbuhan sebesar 3,8 persen sekaligus menjadi rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Peningkatan produksi perikanan nasional ini menunjukkan konsistensi sektor kelautan sebagai salah satu penopang utama ketahanan pangan dan ekonomi Indonesia di tengah tantangan global.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengungkapkan capaian tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR di Jakarta pada Selasa, 7 April 2026.
“Produksi mencapai 26,25 juta ton, menjadi capaian tertinggi yang terdiri atas 11,65 juta ton rumput laut, 7,85 juta ton perikanan tangkap, dan 6,75 juta ton perikanan budidaya,” ujar Trenggono dalam rapat kerja di Komisi IV DPR, Jakarta, Selasa (7/4).
Komposisi produksi tersebut memperlihatkan dominasi komoditas rumput laut sebagai penyumbang terbesar, diikuti oleh sektor perikanan tangkap dan budidaya yang tetap stabil.
Tidak hanya dari sisi produksi, performa ekspor produk perikanan Indonesia juga menunjukkan tren positif sepanjang 2025.
Nilai ekspor tercatat mencapai 6,27 miliar dolar Amerika Serikat, menjadikannya sebagai pencapaian tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Capaian ini mencerminkan meningkatnya daya saing produk perikanan Indonesia di pasar internasional sekaligus memperkuat posisi sektor ini dalam perdagangan global.
Di tengah tekanan geopolitik dunia serta dampak perubahan iklim yang semakin nyata, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan tetap berupaya menjaga stabilitas produksi dan pasokan pangan berbasis laut.
“Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, kinerja sektor kelautan dan perikanan nasional hingga saat ini tetap menunjukkan capaian produksi dan ekspor yang terjaga dengan baik,” ujarnya.
Untuk periode April hingga Desember 2026, KKP memperkirakan produksi ikan nasional akan mencapai 10,57 juta ton.
“Angka ini terdiri dari kontribusi produksi ikan tangkap sebesar 5,42 juta ton, serta produksi ikan budidaya sebesar 5,15 juta ton,” ucapnya.
Proyeksi tersebut menjadi indikator bahwa tren positif sektor perikanan masih akan berlanjut sepanjang tahun 2026.
Selain fokus pada produksi, pemerintah juga terus memantau distribusi dan ketersediaan ikan di sejumlah kota besar guna menjaga stabilitas pasokan nasional.
Pemantauan dilakukan di delapan kota utama, termasuk Jakarta, Surabaya, Banjarmasin, Bandar Lampung, dan Medan sebagai pusat konsumsi dan distribusi ikan.
Hasil pengawasan menunjukkan bahwa pasokan ikan nasional untuk periode April hingga Juni 2026 berada dalam kondisi aman.
“Berdasarkan hasil pemantauan, kami dapat melaporkan bahwa status ketersediaan ikan berada pada kategori aman hingga Juni 2026,” katanya.
Kondisi ini memberikan sinyal positif terhadap ketahanan pangan berbasis protein hewani, khususnya dari sektor perikanan yang semakin strategis bagi masyarakat Indonesia.***