PATI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi katalis baru bagi pertumbuhan ekonomi lokal di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dengan lonjakan signifikan permintaan pangan berbasis hasil budidaya masyarakat.
Di tengah ekspansi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), kebutuhan bahan pangan meningkat tajam dan konsisten sehingga menciptakan pasar baru yang stabil bagi pelaku usaha lokal.
Sektor perikanan menjadi salah satu yang paling terdampak positif, dengan komoditas seperti lele, bandeng, dan nila kini terserap optimal oleh operasional dapur MBG yang tersebar luas.
Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, menyatakan bahwa program ini memberi dorongan nyata bagi pelaku UMKM di daerah.
“Dengan adanya program ini banyak UMKM terbantu. Kami juga menyarankan SPPG untuk membeli produk-produk UMKM atau pun pedagang di Kabupaten Pati. Dan ternyata banyak sekali manfaatnya,” ujarnya, Minggu (26/4/2026).
Lonjakan permintaan dari dapur MBG tidak hanya meningkatkan penyerapan hasil budidaya, tetapi juga memperkuat harga jual di tingkat petani ikan.
Harga lele yang sebelumnya berada di bawah Rp20 ribu kini menunjukkan tren kenaikan, sementara komoditas tambak seperti bandeng ikut terdongkrak nilainya.
“Harganya sudah bagus. Ini bukti bahwa UMKM di Kabupaten Pati dengan program ini mendapatkan manfaat yang luar biasa,” tambahnya.
Kondisi ini menghadirkan kepastian pasar yang selama ini menjadi tantangan utama pelaku usaha perikanan, sekaligus mendorong peningkatan produksi secara berkelanjutan.
Pemerintah Kabupaten Pati merespons perkembangan ini dengan memperketat pengawasan terhadap operasional dapur MBG melalui inspeksi mendadak yang dilakukan rutin di berbagai titik.
Risma bahkan turun langsung melakukan sidak ke SPPG Ketitang Wetan I di Kecamatan Batangan sejak dini hari untuk memastikan kesiapan operasional.
“Kami persiapan jam 5 pagi sidak di SPPG Ketitang Wetan I Kecamatan Batangan Kabupaten Pati ini milik Yayasan Mosya Selalu Berkah,” ujar Risma.
Dapur tersebut disebut sebagai salah satu unit percontohan dengan fasilitas yang telah memenuhi standar operasional yang ditetapkan pemerintah.
Dalam kunjungan tersebut, Risma turut mencicipi menu yang disajikan kepada penerima manfaat sebagai bagian dari evaluasi kualitas layanan.
“Jadi SPPG ini adalah salah satu SPPG percontohan di Kabupaten Pati. Semua fasilitasnya sudah standar. Tadi kami juga sudah mencoba menunya. Hari ini tadi menu asam-asam daging di SPPG Ketintang Wetan I,” katanya.
Ekspansi program MBG di Kabupaten Pati terus berlangsung dengan jumlah dapur yang kian bertambah dan menjangkau ratusan ribu penerima manfaat.
Saat ini sekitar 156 SPPG telah beroperasi, sementara puluhan lainnya masih dalam tahap persiapan menuju total sekitar 200 unit layanan.
“Di Kabupaten Pati sekarang ini sudah berjalan sekitar 156 SPPG. Di mana ada sekitar 54 yang lain masih persiapan. Jadi ada sekitar 200an SPPG. Jadi SPPG yang sudah berjalan ini ada melayani sekitar 314.000 siswa di Kabupaten Pati,” ungkapnya.
Pengawasan intensif menjadi prioritas pemerintah daerah guna memastikan kualitas layanan tetap terjaga dan potensi kendala dapat segera diatasi.
“Kami sebagai perwakilan dari tingkat Kabupaten selalu akan memonitoring program ini. Setiap kecamatan, setiap hari saya minta untuk monitoring ke semua SPPG di wilayahnya.”
“Jadi selalu sidak, tidak usah ada pemberitahuan, sidak di SPPG-SPPG. Untuk memitigasi masalah-masalah yang terjadi di semua SPPG di Kabupaten Pati,” tegasnya.
Risma juga menyampaikan apresiasi kepada Prabowo Subianto atas implementasi program MBG yang dinilai membawa dampak nyata bagi masyarakat.
“Sekali lagi terima kasih kepada Pak Presiden Prabowo. Program MBG ini bisa diterima oleh masyarakat Kabupaten Pati dengan baik. Akan kami kawal program ini. Semoga program ini berjalan dengan lancar. Sekali lagi terima kasih,” pungkasnya.***