JAKARTA — Pemerintah memperluas strategi peningkatan kualitas tenaga kerja dengan menyasar lulusan baru, lulusan SMK, hingga pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat pemutusan hubungan kerja (PHK).
Langkah tersebut ditempuh untuk memastikan kemampuan tenaga kerja tetap sesuai dengan perubahan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan penguatan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam menjaga daya saing ekonomi nasional.
Menurut Airlangga, perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan 5,45 persen pada semester pertama 2026 dan tetap berada di atas 5 persen selama 13 tahun terakhir.
“Indonesia tumbuh sebetulnya dalam semester satu di 5,45 persen dan itu tertinggi dalam 13 tahun terakhir.”
“Indonesia juga berhasil menjaga pertumbuhan di atas 5 persen dalam 13 tahun terakhir, dan kemudian kita berhasil menjaga inflasi juga rendah relatif 2,8 persen.”
“Nah kemudian Bapak Presiden mendorong penguatan SDM,” ujar Airlangga dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (30/8/2026).
Salah satu kebijakan yang disiapkan ialah program pemagangan untuk sekitar 120 ribu hingga 150 ribu lulusan baru selama enam bulan.
Peserta program tersebut akan memperoleh pengalaman langsung di lingkungan industri dengan dukungan pembayaran upah dari pemerintah.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp4,14 triliun untuk menjalankan program pemagangan bagi para lulusan baru tersebut.
Selain lulusan perguruan tinggi, pemerintah membidik 220 ribu lulusan SMK melalui program vokasi agar lebih siap memasuki pasar kerja.
Anggaran sebesar Rp2,12 triliun telah disiapkan untuk mendukung pelaksanaan program vokasi bagi lulusan SMK tersebut.
Pelatihan untuk korban PHK
Perhatian pemerintah juga diarahkan kepada pekerja yang terkena PHK melalui program retraining atau pelatihan kembali.
Program tersebut ditujukan untuk memperbarui keterampilan pekerja agar dapat kembali memenuhi kebutuhan tenaga kerja di dalam negeri.
Pelatihan ulang juga diharapkan membuka kesempatan bagi pekerja terdampak PHK untuk memperoleh peluang kerja di pasar internasional.
Kebijakan peningkatan kompetensi dinilai semakin mendesak karena dunia kerja sedang mengalami perubahan akibat perkembangan teknologi yang pesat.
Salah satu teknologi yang dinilai akan membawa perubahan besar terhadap berbagai sektor ekonomi ialah kecerdasan artifisial atau AI.
“AI ini adalah salah satu revolusi industri ke depan. Sesudah industri 4.0 dia lari ke AI dan AI aplikasinya sangat luar biasa di berbagai sektor. Jadi ini beberapa game changer yang ada ke depan,” ujarnya.
Indonesia siapkan SDM semikonduktor
Pemerintah juga mulai memperkuat kapasitas tenaga kerja untuk mendukung pertumbuhan industri semikonduktor di Indonesia.
Upaya tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Arm Limited, perusahaan yang bergerak dalam bidang desain semikonduktor.
Melalui kerja sama itu, pemerintah menargetkan sekitar 15 ribu peserta memperoleh pelatihan untuk memasuki ekosistem semikonduktor.
Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menekankan bahwa peningkatan kompetensi SDM harus dilakukan secara berkelanjutan.
Menurut Haryo, materi pendidikan dan pelatihan perlu terus disesuaikan dengan dinamika ekonomi serta kebutuhan perusahaan.
Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha dinilai menjadi kunci agar kemampuan lulusan tidak tertinggal dari perubahan industri.
“Penguatan SDM harus dilakukan secara berkelanjutan dengan memperkuat keterhubungan antara pendidikan dan dunia industri.”
“Perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam membekali mahasiswa dengan pengetahuan, tetapi juga perlu memastikan lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang,” ujar Haryo.
Inti kebijakan
Rangkaian program tersebut menunjukkan pemerintah tidak hanya berfokus menciptakan lapangan kerja, tetapi juga meningkatkan kesiapan tenaga kerja menghadapi transformasi industri.
Program magang, vokasi, retraining, hingga pelatihan semikonduktor menjadi bagian dari strategi mempertemukan kompetensi pekerja dengan kebutuhan industri masa depan.
Perubahan teknologi, khususnya AI, membuat peningkatan keterampilan menjadi kebutuhan berkelanjutan bagi lulusan baru maupun pekerja yang sudah memiliki pengalaman.***



