SUMUT – PT Gagas Energi Indonesia (“PGN Gagas”), Anak Perusahaan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. yang merupakan bagian dari Subholding Gas PT Pertamina (Persero), turut ambil bagian dalam ajang Diseminasi Pengembangan Biometana di Indonesia di Grand City Hall Hotel, Medan. Forum yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan meliputi Pemerintah, Pelaku Usaha, Lembaga Keuangan, dan pemangku kepentingan energi terbarukan untuk memperkuat ekosistem biometana nasional. PGN Gagas hadir memaparkan peran strategisnya dalam pemanfaatan BioCNG untuk sektor transportasi, industri dan komersial sebagai bagian dari penguatan ketahanan energi nasional.
PGN Gagas menyampaikan bahwa biometana — biogas yang dimurnikan hingga mencapai kadar metana yang tinggi (90-95%) — setara dengan spesifikasi gas bumi dan dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk industri, komersial, hingga transportasi. Berbekal lebih dari satu dekade pengalaman di bisnis gas bumi terkompresi, PGN Gagas menyatakan kesiapannya menjadi penghubung antara potensi biometana di hulu dengan kebutuhan energi masyarakat di hilir melalui empat fondasi utama: kompetensi kompresi dan penanganan gas bertekanan; armada virtual pipeline melalui Gas Transport Module (GTM); jaringan SPBG yang tersebar di berbagai provinsi; serta basis pelanggan industri dan komersial eksisting sebagai offtaker biometana.
“Kami berperan sebagai agregator, offtaker, dan distributor biometana dengan memanfaatkan pengalaman, aset, dan basis pelanggan yang telah kami miliki,” ujar Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan.
Sumatera Utara menjadi salah satu lokasi strategis pengembangan BioCNG mengingat besarnya potensi feedstock biometana di wilayah ini, salah satunya berasal dari Palm Oil Mill Effluent (POME) — limbah organik dari proses pengolahan yang secara nasional diperkirakan mencapai 100 juta ton per tahun. Pemanfaatan POME menjadi BioCNG memberikan manfaat berlapis: substitusi energi impor dengan sumber 100% domestik dan terbarukan, pengurangan emisi metana yang potensi pemanasan globalnya sekitar 28 kali lebih tinggi dibanding CO₂, penciptaan nilai tambah dari limbah, serta kemampuan menjangkau daerah yang jauh dari jaringan pipa gas.
Santiaji dalam paparannya juga menyampaikan tantangan yang perlu diatasi bersama, mulai dari konsistensi pasokan dan mutu feedstock, standardisasi spesifikasi biometana, kepastian offtake dan keekonomian, logistik, pembiayaan, hingga kekosongan kerangka regulasi terkait harga, sertifikasi green gas, dan insentif. Untuk itu, PGN Gagas mengajak seluruh pemangku kepentingan — pemerintah, pemilik feedstock, lembaga keuangan, otoritas karbon, dan industri offtaker — untuk berkolaborasi membangun ekosistem biometana yang sehat dan berkelanjutan. “Kami siap menjadi penghubung antara potensi biometana di hulu dan kebutuhan energi masyarakat di hilir — dengan infrastruktur dan pelanggan yang sudah kami miliki. Dari limbah, kita ubah menjadi energi untuk negeri,” tegas Santiaji.
Komitmen PGN Gagas untuk mengembangkan penyaluran gas beyond pipeline di Sumatera bukan sekadar wacana. Melalui pembangunan Mother Station (MS) Medan yang dimulai pada 2025, PGN Gagas memperkuat fondasi infrastruktur penyaluran gas bumi di wilayah ini. MS Medan diproyeksikan mampu melayani kebutuhan CNG di Sumatera Utara sekaligus disiapkan sebagai titik integrasi yang dapat menyambut distribusi BioCNG begitu ekosistem biometana di hulu berkembang sambil mewujudkan rantai nilai BioCNG dari hulu ke hilir secara nyata