JAKARTA — Perekonomian Indonesia diperkirakan tetap mencatatkan pertumbuhan di atas 5 persen pada Triwulan III-2026.
Aktivitas konsumsi masyarakat, ekspor, investasi, serta belanja pemerintah dinilai masih menjadi komponen yang menopang pergerakan ekonomi nasional menjelang pengumuman resmi Badan Pusat Statistik (BPS).
Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode tersebut masih berada di atas 5 persen.
Menurutnya, sejumlah komponen utama pembentuk produk domestik bruto (PDB) masih menunjukkan aktivitas yang menopang pertumbuhan ekonomi.
“Kalau hitungan saya sih masih di atas 5%,” ujar Piter saat dimintai pandangan mengenai proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan III-2026.
Ia menjelaskan, konsumsi masyarakat masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional, selain ekspor, investasi, dan belanja pemerintah.
Terlebih, konsumsi rumah tangga memiliki kontribusi lebih dari separuh terhadap perekonomian Indonesia sehingga aktivitas konsumsi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga pertumbuhan.
“Kita kan masih ada konsumsi ya, masih ada ekspor, masih ada investasi dan belanja pemerintah,” jelasnya.
Piter juga menyoroti adanya perbedaan kondisi ekonomi yang dirasakan masyarakat. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi secara agregat tidak selalu mencerminkan pengalaman ekonomi yang sama pada setiap kelompok masyarakat.
Hal ini karena aktivitas ekonomi digerakkan oleh kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan dan kemampuan konsumsi yang berbeda.
Ia menilai, kelompok menengah atas masih memiliki kemampuan untuk mempertahankan konsumsi, sementara sebagian kelompok masyarakat bawah menghadapi tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga.
Meski demikian, aktivitas konsumsi tetap berlangsung dengan kondisi dan kemampuan yang tidak sama.
“Jadi mungkin sekarang ini ekonomi kita lebih digerakkan oleh kelompok menengah atas yang masih berkonsumsi.”
“Di kelompok bawah mungkin konsumsinya turun, tapi kan mereka masih berkonsumsi juga baik itu dengan bantuan, bansos atau mereka makan tabungan, mereka masih berkonsumsi juga,” ungkap Piter.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kondisi konsumsi masyarakat perlu dilihat secara lebih menyeluruh.
Menurutnya, masih berlangsungnya aktivitas konsumsi tidak serta-merta menunjukkan seluruh kelompok masyarakat memiliki daya beli yang sama.
Sebagian masyarakat masih mampu mempertahankan pola konsumsi, sementara sebagian lainnya harus menyesuaikan pengeluaran, bahkan menggunakan tabungan atau berutang untuk memenuhi kebutuhan.
“Bedanya adalah, yang harus kita akui, ada yang konsumsinya masih banyak, ada yang konsumsinya itu kurang, ada yang konsumsinya itu masih foya-foya, ada yang sudah makan tabungan, ada yang sudah makan hutang, tapi mereka semuanya itu masih konsumsi,” kata Piter.
Dalam konteks tersebut, Piter menilai komunikasi mengenai kondisi perekonomian perlu disampaikan dengan data yang lebih jernih agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh mengenai perkembangan ekonomi nasional.
Menurutnya, indikator pertumbuhan ekonomi perlu dibaca bersama kondisi konsumsi dan aktivitas ekonomi yang berlangsung di tengah masyarakat.
Ia pun menilai perbedaan proyeksi di kalangan ekonom lebih banyak berkaitan dengan besaran angka pertumbuhan, bukan mengenai apakah perekonomian Indonesia masih tumbuh positif atau tidak.
“Sebenarnya para ekonom sepakat kalau kita tumbuh positif cuma bedanya adalah angkanya berapa, ada yang mengatakan di bawah 5%, ada yang mengatakan di atas 5% tapi ada di kisaran 5%,” pungkasnya.***