JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sempat menjadi sorotan setelah kasus keracunan massal melanda sejumlah sekolah di Indonesia pada awal 2025.
Tepatnya di SDN 33 Kasipute, Bombana, Sulawesi Tenggara, 13 siswa mengalami muntah dan sakit perut akibat konsumsi ayam tepung MBG yang diduga basi.
Sementara itu, 60 siswa SDN Proyonanggan 5, Batang, Jawa Tengah, juga melaporkan keluhan serupa.
Menyikapi situasi ini, Presiden Prabowo Subianto turun langsung memantau pelaksanaan MBG, langkah yang disambut positif oleh DPR.
Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan memuji komitmen Presiden untuk memastikan MBG berjalan aman dan berkualitas.
“Kami dukung target zero accident di MBG yang menjadi komitmen Pemerintah. Kami akan lihat, dan kami pantau perkembangan perbaikan pelaksanaan MBG ini.”
“Mulai tidak adanya kejadian keracunan sampai tidak ada lagi wadah plastik yang beredar dan ditemukan di sekolah-sekolah,” ujar Daniel di Jakarta, Selasa (6/5/2025).
Ia menekankan pentingnya pengawasan ketat untuk mencegah kasus serupa.
Daniel juga mendorong kolaborasi lintas kementerian, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup, Badan Gizi Nasional, Kementerian Pendidikan, dan Kementerian Kesehatan, untuk menyusun pedoman teknis MBG yang ramah lingkungan.
“Di tengah semangat Presiden Prabowo untuk menjadikan program MBG sebagai andalan Pemerintah, maka komitmen keberlanjutan harus masuk dalam kerangka besarnya.”
“Harus dipastikan bahwa MBG memenuhi tiga prinsip utama, bergizi, aman dan keberlanjutan,” tegasnya.
Sekolah, menurutnya, perlu didukung dana dan peralatan makan reusable untuk menjamin kualitas.
Langkah Konkret
Daniel menyoroti perlunya kontrol kualitas katering dan penggunaan peralatan makan ramah lingkungan di sekolah.
Ia mengusulkan pemberdayaan sekolah dengan anggaran memadai untuk menerapkan sistem katering yang higienis dan terstandar.
Langkah ini diharapkan tidak hanya mencegah keracunan, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan, sejalan dengan visi MBG sebagai program unggulan pemerintah.
Hingga kini, pemerintah terus mengevaluasi pelaksanaan MBG untuk memastikan keamanan dan kualitas gizi bagi anak-anak Indonesia.
“Anak-anak Indonesia berhak mendapatkan gizi yang layak serta lingkungan yang sehat dan keberlanjutan secara bersamaan. Hal ini harus menjadi komitmen kita bersama,” tutup Daniel.
Dengan pengawasan ketat dan kolaborasi lintas sektor, MBG diharapkan menjadi program yang tidak hanya bergizi, tetapi juga aman dan ramah lingkungan.***