DOHA, QATAR – Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, menilai rencana 20 poin mantan Presiden AS Donald Trump untuk menyelesaikan konflik Gaza sebagai langkah awal yang potensial, meski beberapa elemennya masih memerlukan diskusi intensif.
Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, di tengah upaya mediasi global yang kian mendesak untuk menghentikan kekerasan di wilayah tersebut.
Sebagai salah satu mediator utama bersama Mesir, Qatar menekankan bahwa prioritas utama adalah menghentikan derita warga Palestina.
“Fokus utama Qatar saat ini adalah bagaimana mengakhiri penderitaan warga Palestina di Gaza,” ujar Sheikh Mohammed. Ia menambahkan, “Prioritas negaranya adalah mengakhiri perang, kelaparan, dan pengungsian di Gaza.”
Rencana Trump, yang diluncurkan pada 29 September 2025 bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, mencakup pembebasan seluruh sandera Israel dengan imbalan puluhan tahanan Palestina, pelucutan senjata penuh Hamas, penarikan bertahap pasukan Israel, serta pembentukan komite Palestina berbasis teknokratis yang netral secara politik untuk mengelola Gaza.
Meski demikian, dokumen tersebut hanya menjanjikan kemungkinan—bukan jaminan—untuk kedaulatan Palestina dan pembentukan negara merdeka.
Sheikh Mohammed menyoroti bahwa meskipun rencana ini selaras dengan tujuan akhir perang, implementasinya tak bisa lepas dari negosiasi.
“Rencana yang diusulkan Trump mencapai tujuan utama dengan mengakhiri perang, tetapi ada beberapa isu yang memerlukan klarifikasi dan negosiasi,” katanya. Lebih lanjut, “Apa yang disampaikan kemarin adalah prinsip-prinsip dalam rencana yang memerlukan pembahasan rinci dan cara penyelesaiannya.”
Hingga kini, Qatar belum menerima respons resmi dari Hamas, yang memerlukan persetujuan bersama dari berbagai faksi Palestina.
“Kami masih belum mengetahui tanggapan Hamas terhadap rencana tersebut, yang membutuhkan konsensus dengan faksi-faksi Palestina,” ungkap sang perdana menteri.
Qatar dan Mesir telah menjelaskan kepada kelompok militan tersebut bahwa fokus mediasi adalah menghentikan pertempuran secepat mungkin.
Pernyataan ini datang di saat krisis kemanusiaan di Gaza mencapai titik kritis. Sejak Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 66.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza.
Wilayah tersebut kini tak layak huni akibat bombardir berkelanjutan, yang memicu kelaparan massal dan penyebaran penyakit menular.
Dalam konteks lebih luas, upaya negara-negara Arab dan Islam terus mendorong solusi dua negara.
“Negara-negara Arab dan Islam telah melakukan segala upaya untuk memastikan bahwa warga Palestina tetap berada di tanah mereka dan mencapai solusi dua negara,” tegas Sheikh Mohammed. Ia pun mengajak semua pihak untuk pendekatan konstruktif
“Kami berharap semua orang akan mempertimbangkan rencana tersebut secara konstruktif dan memanfaatkan kesempatan untuk mengakhiri perang.”
Fase negosiasi saat ini, meski belum sempurna, dianggap krusial untuk membangun jalan keluar yang efektif.
“Fase saat ini penting dan merupakan bagian dari negosiasi yang tidak diharapkan menghasilkan bahasa yang sempurna. Jalan yang ada saat ini harus dibangun dan dibuat efektif serta berhasil,” tambahnya.
Rencana Trump ini menjadi sorotan internasional, terutama menjelang pemilu AS 2024 yang berpotensi memengaruhi dinamika Timur Tengah. Qatar, sebagai pusat diplomasi regional, berharap inisiatif ini bisa mempercepat gencatan senjata dan rekonstruksi Gaza, sambil menjaga komitmen jangka panjang terhadap hak Palestina.