SUMBAR – Jalur transportasi yang sempat terputus akibat banjir bandang dan longsor di akhir November kini kembali berfungsi. Satuan Tugas Penanggulangan Bencana dari Batalyon Zeni Konstruksi 12/Karana Jaya (Yonzikon 12/KJ) berhasil merampungkan pembangunan jembatan darurat di sejumlah titik terdampak, memulihkan konektivitas wilayah di Ranah Minang.
Bencana yang dipicu intensitas hujan tinggi itu sebelumnya merusak jembatan utama serta beberapa ruas jalan vital di Kabupaten Solok dan Kabupaten Agam. Kondisi tersebut sempat menghambat distribusi logistik, aktivitas pendidikan, hingga roda perekonomian masyarakat setempat.
Merespons situasi darurat tersebut, Kepala Pusat Zeni Angkatan Darat Mayor Jenderal TNI Budi Hariswanto mengerahkan personel konstruksi ke lokasi terdampak. Operasi percepatan pemulihan infrastruktur pun segera dijalankan.
Sebanyak 80 prajurit di bawah komando Komandan Yonzikon 12/KJ Letkol Czi I Made Dwi Bagus Yudistira ditugaskan membangun jembatan Bailey tipe 2-1 di empat titik kritis. Pekerjaan dibagi ke dalam tiga tim teknis yang dipimpin Kapten Czi Utami, Letda Czi Novan Mulyo Santoso, dan Letda Czi Panji Satria Altri.
Meski dihadapkan pada medan sulit dan cuaca yang berubah-ubah, seluruh pembangunan berhasil diselesaikan dalam waktu sekitar satu pekan.
“Tantangan medan dan cuaca memang cukup dinamis, namun disiplin dan ketelitian prajurit menjadi kunci utama. Kami fokus agar jembatan ini segera fungsional demi kepentingan masyarakat,” ungkap Letkol Czi I Made Dwi Bagus Yudistira.
Keberhasilan tersebut juga didukung partisipasi aktif warga. Masyarakat setempat terlibat langsung dalam proses pembangunan, mulai dari membantu pengangkutan material hingga membersihkan area kerja. Kolaborasi ini mencerminkan kuatnya semangat gotong royong dalam menghadapi situasi darurat.
Dampak pemulihan infrastruktur ini langsung dirasakan. Aktivitas pelajar kembali berjalan normal, distribusi hasil pertanian mulai lancar, dan pergerakan logistik yang sebelumnya terhambat kini kembali pulih. Jembatan dengan bentang antara 21 hingga 39 meter itu menjadi solusi sementara yang krusial bagi mobilitas warga.
Pembangunan jembatan darurat ini menegaskan peran TNI Angkatan Darat dalam percepatan penanganan bencana. Selain memulihkan akses transportasi, kehadiran prajurit di lapangan juga memperkuat sinergi dengan masyarakat dalam menghadapi dampak bencana alam.