PAPUA TENGAH – Upaya memulihkan aktivitas pendidikan dan keagamaan pasca-insiden pembakaran kompleks Yayasan Pesantren Islam (YAPIS) Ash-Shiddiq Waghete terus dilakukan. Satgas Marinir Pengamanan Perbatasan (Satgasmar Pamtas) Mobile RI-PNG Yonif 2 Marinir Gobang 8 bersama unsur TNI-Polri dan masyarakat bergotong royong membersihkan area pesantren yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat aksi pembakaran oleh orang tak dikenal.
Kegiatan yang berlangsung di Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, itu menjadi langkah awal untuk mengembalikan fungsi sarana pendidikan yang mencakup sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga lingkungan pesantren yang selama ini menjadi pusat kegiatan belajar para santri dan siswa setempat.
Aksi pembersihan melibatkan personel Satgasmar Pamtas Mobile RI-PNG Yonif 2 Marinir Gobang 8, Kodim 1703/Deiyai, Polres Deiyai, Satgas Kewilayahan Yonif 711/Raksatama, serta masyarakat sekitar. Mereka bekerja bersama membersihkan sisa-sisa material pasca-kebakaran sekaligus mengamankan kawasan agar proses pemulihan dapat berjalan dengan lancar.
Langkah cepat tersebut dinilai penting mengingat fasilitas pendidikan dan tempat ibadah memiliki peran strategis dalam kehidupan masyarakat Deiyai. Kerusakan yang terjadi tidak hanya berdampak pada bangunan fisik, tetapi juga mengganggu kegiatan belajar mengajar dan aktivitas keagamaan yang selama ini berlangsung di kompleks YAPIS.
Komandan Satgasmar Pamtas Mobile RI-PNG Yonif 2 Marinir Gobang 8, Letkol Marinir Helilintar Setiojoyo Laksono, menegaskan bahwa kehadiran aparat keamanan di wilayah Papua tidak semata-mata menjalankan fungsi pengamanan, tetapi juga memberikan dukungan nyata bagi masyarakat yang menghadapi kesulitan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa TNI dan Polri selalu hadir bersama masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami berharap proses pemulihan fasilitas pendidikan dan pesantren dapat berlangsung lebih cepat sehingga para siswa dan santri dapat kembali belajar dalam kondisi aman dan nyaman,” ujar Helilintar.
Menurutnya, pendidikan merupakan fondasi penting bagi masa depan generasi muda Papua. Karena itu, percepatan pemulihan fasilitas yang terdampak menjadi salah satu prioritas agar proses pembelajaran tidak terhenti terlalu lama.
Kehadiran aparat bersama masyarakat dalam kegiatan tersebut juga memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong yang terus dipelihara di tengah berbagai tantangan yang dihadapi wilayah Papua Tengah. Warga setempat tampak bahu-membahu membersihkan area terdampak, mengangkat puing-puing, dan menata kembali lingkungan pesantren.
Selain membantu proses pembersihan, aparat gabungan juga melakukan pengamanan di sekitar lokasi guna memastikan situasi tetap kondusif selama proses pemulihan berlangsung. Langkah ini dilakukan untuk memberikan rasa aman bagi tenaga pendidik, siswa, maupun masyarakat yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Peristiwa pembakaran yang menimpa kompleks YAPIS Ash-Shiddiq Waghete sebelumnya sempat menimbulkan keprihatinan luas karena menyasar fasilitas pendidikan dan keagamaan yang menjadi pusat pembinaan generasi muda di wilayah tersebut. Karena itu, respons cepat yang dilakukan aparat dan masyarakat menjadi simbol kuat bahwa aktivitas pendidikan tidak boleh berhenti akibat tindakan destruktif pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Pemulihan fasilitas pendidikan di Deiyai juga sejalan dengan komitmen TNI Angkatan Laut dalam mendukung kesejahteraan masyarakat di daerah penugasan, khususnya wilayah perbatasan dan daerah yang membutuhkan perhatian khusus.
Kegiatan kemanusiaan tersebut merupakan implementasi dari program prioritas Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Muhammad Ali, yang menekankan pentingnya kehadiran prajurit TNI AL dalam membantu masyarakat serta memberikan solusi terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapi warga.
Dengan dimulainya proses pembersihan dan penataan kembali lingkungan pesantren, harapan agar kegiatan belajar mengajar segera kembali normal kini mulai tumbuh. Bagi para siswa dan santri di Deiyai, pemulihan itu bukan sekadar perbaikan bangunan, melainkan langkah untuk menghidupkan kembali ruang belajar yang menjadi tempat mereka menata masa depan.