JAKARTA – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan pada perdagangan Rabu (6/5/2026) pagi dengan bergerak naik ke level Rp17.390 per dolar AS dalam dinamika pasar valuta asing terkini.
Pergerakan rupiah ini mencerminkan adanya sentimen positif jangka pendek meski tekanan eksternal global masih membayangi stabilitas mata uang emerging market.
Penguatan rupiah menjadi sinyal awal perbaikan setelah sebelumnya ditutup di level yang lebih lemah, sekaligus menunjukkan respons pasar terhadap perkembangan ekonomi terbaru.
Berdasarkan data perdagangan, rupiah tercatat menguat sebesar 34 poin atau sekitar 0,20 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.424 per dolar AS.
Kenaikan ini terjadi pada awal sesi perdagangan Rabu, menandakan adanya dorongan permintaan terhadap mata uang domestik di tengah fluktuasi dolar AS.
Meski penguatan tergolong terbatas, pergerakan ini tetap menjadi indikator penting bagi pelaku pasar dalam membaca arah kebijakan moneter dan kondisi likuiditas global.
Pelaku pasar kini masih mencermati berbagai faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga Amerika Serikat serta perkembangan ekonomi global yang berpotensi memengaruhi stabilitas rupiah.
Di sisi lain, sentimen domestik juga berperan dalam menjaga kepercayaan terhadap rupiah, termasuk kondisi fundamental ekonomi dan arus modal asing.
Penguatan tipis ini sekaligus menjadi pijakan awal bagi rupiah untuk mencoba bertahan di tengah volatilitas pasar keuangan internasional yang masih tinggi.
7 Juru BI untuk Kurs Rupiah
Sebelumnya Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan implementasi kebijakan moneter yang dirancang untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus memastikan daya tahan ekonomi nasional tetap terjaga di tengah dinamika global.
Langkah pertama difokuskan pada penguatan intervensi di pasar valuta asing, baik di dalam negeri maupun luar negeri, dengan memanfaatkan cadangan devisa yang dinilai masih sangat memadai untuk menjaga stabilitas kurs rupiah.
“Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah itu,” ujar Perry, Selasa (5/5/2026).
Strategi berikutnya diarahkan untuk menjaga arus modal asing tetap masuk ke Indonesia melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yang diharapkan mampu menyeimbangkan tekanan keluar dari pasar obligasi dan saham.
“Kami bersepakat untuk sementara ini SRBI dibuat perlu inflow (aliran masuk) sehingga inflow-nya SRBI bisa mencukupi aliran keluarnya (outflow) SBN (surat berharga negara) dan saham.”
“Itu koordinasi kami dengan Pak Menteri Keuangan sehingga betul-betul menjaga inflow-nya dari portofolio asing itu masih dari awal tahun hingga saat ini (year-to-date) masih terjadi inflow dan itu memperkuat nilai tukar rupiah,” kata Perry.
Selain itu, BI bersama Kementerian Keuangan juga memperkuat sinergi fiskal dan moneter melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder guna menjaga keseimbangan pasar keuangan domestik.
“Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year-to-date adalah Rp123,1 triliun dan kami akan melakukan koordinasi, termasuk nanti Pak Menteri Keuangan bisa beli kembali (buyback) dan segala macam. Koordinasi erat antara fiskal dan moneter,” ujar Gubernur BI.
Upaya menjaga likuiditas juga menjadi fokus penting, dengan kondisi pasar uang dan perbankan yang dijaga tetap longgar untuk mendukung stabilitas ekonomi nasional.
“Kami juga dengan Pak Menteri Keuangan menjaga likuiditas di perbankan dan pasar uang lebih dari cukup, yaitu terindikasi dari pertumbuhan uang primer yang selalu double digit, terakhir itu, pertumbuhan uang primernya adalah 14,1 persen,” kata Perry.
Di sisi lain, BI mulai memperketat pembelian dolar AS di pasar domestik dengan menurunkan batas maksimal transaksi tanpa underlying dari sebelumnya 100.000 dolar AS menjadi 50.000 dolar AS per orang per bulan.
“Itu yang kami langsung koordinasi dengan KSSK untuk penguatan-penguatan,” kata Perry.
Bank sentral juga tengah menyiapkan kebijakan lanjutan dengan penurunan batas hingga 25.000 dolar AS agar transaksi valas lebih terkontrol dan berbasis kebutuhan riil.
“Kami persiapkan, kami akan turunkan lagi menjadi 25.000 sehingga pembelian dolar sampai dengan atau di atas 25.000 itu harus pakai underlying,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo.
Langkah lainnya mencakup perluasan intervensi di pasar offshore melalui instrumen non-deliverable forward (NDF) dengan melibatkan bank domestik untuk meningkatkan suplai valas di pasar global.
“Kami juga membolehkan bank-bank domestik untuk ikut jualan offshore NDF (non-deliverable forward) di luar negeri sehingga pasokan lebih banyak dan itu akan memperkuat stabilisasi dari nilai tukar rupiah,” kata Perry.
Terakhir, BI memperketat pengawasan terhadap aktivitas perbankan dan korporasi yang memiliki intensitas tinggi dalam pembelian valuta asing, dengan koordinasi erat bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Yang terutama, kami lihat bank-bank korporasi yang aktivitas pembelian dolar tinggi, kami kirim pengawas ke sana, koordinasi dengan Bu Frederika Widyasari Ketua OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo.***