JAKARTA —Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai berdampak langsung pada harga kebutuhan sehari-hari. Salah satu yang paling dirasakan masyarakat adalah kenaikan harga nasi padang, yang selama ini dikenal sebagai makanan terjangkau.
Di sejumlah warung makan, harga seporsi nasi padang dilaporkan naik dari kisaran Rp15.000 menjadi Rp17.000. Kenaikan ini mencerminkan tekanan biaya yang dihadapi pelaku usaha, terutama akibat lonjakan harga bahan baku dan distribusi.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut pelemahan rupiah menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga tersebut.
“Saya sekarang beli makanan padang saja, yang tadinya Rp15.000, itu jadi Rp17.000, ini satu contoh,” ujarnya.
Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik, termasuk ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, telah mendorong biaya logistik dan produksi. Dampaknya kemudian diteruskan ke harga jual di tingkat konsumen.
Selain faktor energi, pelemahan rupiah juga meningkatkan harga bahan baku yang bergantung pada impor serta biaya pendukung seperti kemasan.
“Semua mengalami kenaikan karena harga plastik naik, kemudian harga-harga yang lainnya juga mengalami kenaikan,” kata dia.
Kenaikan harga nasi padang dinilai menjadi indikator sederhana tekanan ekonomi di sektor riil. Sebagai makanan yang identik dengan harga terjangkau, perubahan harga tersebut mencerminkan meningkatnya beban biaya yang dirasakan pelaku usaha dan konsumen.
Tak hanya sektor kuliner, dampak pelemahan rupiah juga mulai merambah berbagai lini usaha. Kenaikan biaya energi mendorong ongkos distribusi meningkat, yang pada akhirnya memicu penyesuaian harga berbagai barang dan jasa.
Ibrahim menilai kondisi ini berpotensi menekan daya beli masyarakat jika berlangsung dalam waktu lama, mengingat kenaikan harga tidak selalu diikuti peningkatan pendapatan.
Di sisi lain, pelaku usaha kecil berada dalam posisi dilematis: menaikkan harga dengan risiko kehilangan pelanggan atau menanggung kenaikan biaya produksi yang menggerus margin keuntungan.
Rupiah Berpotensi Tembus Rp17.500 per Dolar AS
Di tengah tekanan tersebut, nilai tukar rupiah diproyeksikan masih menghadapi tekanan berat dalam waktu dekat, bahkan berpotensi menembus level Rp17.500 per dolar AS.
Tekanan ini dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik, dengan sentimen global menjadi pendorong utama. Dari sisi eksternal, keputusan bank sentral AS, Federal Reserve, yang menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5–3,75 persen menjadi salah satu faktor penekan.
Keputusan tersebut mencerminkan perbedaan pandangan di internal otoritas moneter AS, dengan delapan pejabat mendukung dan empat lainnya menolak kebijakan tersebut.
Selain itu, lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk tekanan terhadap rupiah. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, termasuk gangguan di jalur strategis Selat Hormuz, mendorong harga energi global meningkat tajam.
Harga minyak Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak Maret 2022 sebelum terkoreksi ke kisaran 114,01 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami fluktuasi signifikan, mencerminkan tingginya volatilitas pasar energi global.
Tekanan Eksternal dan Beban Impor Energi
Ibrahim menilai pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS yang didorong oleh kenaikan harga energi.
Ia juga menyoroti tingginya kebutuhan impor minyak Indonesia yang mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari. Kondisi ini membuat permintaan terhadap dolar AS meningkat signifikan.
“Kemudian kita lihat bahwa kok kenapa sih rupiah ini kok terus melemah? karena kebutuhan untuk impor minyak kita itu cukup tinggi 1,5 juta barrel, nah sehingga membutuhkan dollar yang cukup besar,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menilai asumsi makro dalam APBN berpotensi meleset dari realisasi. Harga minyak yang dipatok sekitar 70 dolar AS per barel dinilai jauh di bawah kondisi pasar saat ini.
“Kemudian untuk minyak mentah sendiri kan dipatok 70 dollar AS per barrel, ini akan mengikis apa? neraca transaksi berjalan,” lanjutnya.
Kondisi tersebut berisiko memperlebar defisit transaksi berjalan sekaligus menambah tekanan terhadap anggaran negara.
Upaya Stabilisasi dan Tantangan ke Depan
Di tengah tekanan global, Bank Indonesia dinilai telah melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing, termasuk non-deliverable forward (NDF), pasar spot, dan surat utang.
Bank sentral juga berupaya menjaga kepercayaan pasar dengan menegaskan bahwa fundamental ekonomi domestik masih relatif kuat, ditopang cadangan devisa, neraca perdagangan, serta pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan tetap di atas 5 persen.
Namun, Ibrahim menekankan bahwa stabilisasi tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan moneter. Pemerintah dinilai perlu mengambil langkah fiskal strategis, termasuk menyesuaikan prioritas belanja negara.
Dalam situasi tekanan global yang tinggi, penyesuaian sementara terhadap program-program besar dinilai diperlukan agar anggaran dapat difokuskan pada kebutuhan mendesak, khususnya pembiayaan impor energi dan menjaga stabilitas ekonomi.
Dengan tekanan eksternal yang masih tinggi dan ketidakpastian geopolitik yang berlanjut, pergerakan rupiah dalam waktu dekat diperkirakan tetap fluktuatif. Dampaknya, tren kenaikan harga di sektor makanan dan kebutuhan pokok berpotensi berlanjut dan memperberat beban ekonomi masyarakat.